Lima Penyakit Masyarakat

75

 Oleh : Taufiqurrohman, S.Pd.I2

Jamaah Jum’at rahimakumullah….

Dari mimbar ini kami menyeru  kepada diri kami pribadi khususnya,dan  kepada para jamaah sekalian umumnya, untuk selalu menjaga, mempertahankan dan terus berupaya meningkatkan nilai-nilai ketaqwaan kepada Allah SWT. Hanya dengan taqwa kita selamat kelak di hari pengadilanNya.

Jamaah Jum’at rahimakumullah….

Dalam sebuah hadis, Abdullah bin Umar ra meriwayatkan bahwa, “Rasulullah saw menghadap ke arah kami para Sahabat, seraya bersabda, ‘Wahai kaum Muhajirin. Ada lima hal yang aku berlindung kepada Allah agar kalian tidak menjumpainya: tiadalah tersebar perzinaan pada suatu kaum hingga mereka  melakukannya secara terbuka, kecuali mereka akan ditimpa berbagai macam penyakit dan kelaparan yang tidak pernah menimpa orang-orang sebelum mereka; tiadalah suatu kaum mengurangi takaran, kecuali mereka ditimpa paceklik, sulit mendapat makanan, dan dipimpin penguasa dzalim; tiadalah suatu kaum enggan mengeluarkan zakat dari harta mereka, kecuali terhalang hujan dari langit.  Kalau saja bukan karena hewan-hewan itu, niscaya tidak turun hujan sama sekali; tiadalah suatu kaum mengingkari janji, kecuali Allah menguasakan atas mereka musuh-musuh yang bukan dari golongan mereka sendiri, dimana musuh-musuh itu mengambil harta yang ada di tangan mereka. Dan, selama pemimpin-pemimpin mereka tidak tunduk pada hukum Allah dan memperjuangkan apa yang Allah turunkan di dalam kitab-Nya, niscaya Allah akan mentakdirkan kekerasan (keributan) di antara mereka’.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim).

 

Jamaah Jum’at rahimakumullah….

Kita yang hidup pada zaman sekarang ini rasanya telah menemui apa-apa yang dikhawatirkan oleh Nabi saw dan para sahabatnya tentang lima perkara yang ada dalam hadis di atas. Nabi saw telah menunjukkan dengan tegas kepada kita lima penyakit masyarakat yang dapat membawa kehancuran, azab, kerusakan dan kemurkaan Allah terhadap pelakunya, juga manusia yang hidup di sekitarnya. Maka, dalam kesempatan yang singkat ini, marilah kita kaji satu persatu kelima penyakit itu, agar kita dapat mengetahui, kemudian menghindarinya. Jangan sampai satupun dari kelima penyakit itu terjadi pada diri kita, keluarga, lingkungan, atau negara kita ini.

 

Pertama, Perzinaan yang Menyebar dan Terbuka

Kita tidak dapat menutup mata dari bentuk penyakit ini. Perzinaan dalam bentuk pelacuran, baik yang di lokalisasi ataupun yang ilegal, sudah menjadi suatu kewajaran. Bahkan yang berwenangpun merasa diuntungkan dengan adanya bisnis ini, yaitu dengan adanya pemasukan pajak dan pungutan lainnya. Padahal efek negatif dari  perbuatan keji ini sangat besar bagi masyarakat terutama generasi muda. Akibat yang ditimbulkannyapun sudah demikian jauh menjalar ke pelosok-pelosok daerah, terutama tempat-tempat yang subur untuk praktek prostitusi. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah bahwa perzinaan ini juga telah dilakukan oleh anak-anak bawah umur, anak-anak kaum muslimin yang seharusnya tekun di bangku pendidikan, dan mereka yang seharusnya tidak terbebani mencari nafkah. Betapa banyak surat kabar, TV dan media lainnya memberitakan kasus orang tua menjual anaknya menjadi pelacur untuk menopang hidup keluarga. Anak-anak sebagai generasi penerus dan tulang punggung masa depan itu justru terjerumus di lembah hitam yang hanya akan berbuah penyesalan tiada akhir. Di antara akibat yang telah nyata dan jelas adalah tersebarnya virus HIV/AIDS ke seluruh dunia, hingga ke daerah-daerah terpencil.

Maka, tungggulah apa yang terjadi jika kita hanya berdiam diri dan berpangku tangan dengan keadaan ini. Allah SWT menyatakan dalam firman-Nya “Hindarkanlah diri kalian dari adzab yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim di antara kalian saja. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (Al-Anfaal: 25)

Benarlah apa yang dinyatakan Nabi saw, “Tiadalah tersebar perbuatan keji (zina) pada suatu kaum hingga mereka melakukannya secara terbuka, kecuali mereka akan ditimpa berbagai macam penyakit dan kelaparan yang tidak pernah menimpa orang-orang sebelum mereka.”

 

Kedua, Curang dalam Takaran

Karena iman yang lemah dan tidak percaya adanya jaminan rezeki dari Allah, para pedagang dan pengusaha suka berbuat curang, yaitu mengurangi takaran. Praktek curang seperti ini kian membudaya. Banyak penjual yang menipu melalui timbangan dan takaran. Tidak hanya penjual, pembelipun ikut mencari celah untuk tidak dirugikan, yakni dengan bentuk penipuan lain terhadap pedagang. Allah sudah mengingatkan dalam firman-Nya :

Artinya :

“Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kemampuannya. Dan apabila kalian berkata, maka hendaklah berlaku adil, kendatipun dia adalah kerabatmu, dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kalian menerima peringatan.” (Al-An’aam:152)

Tindakan curang dan penipuan dalam transaksi termasuk hal yang diharamkan Allah, dan merupakan suatu penyakit masyarakat yang membawa akibat yang buruk bagi masyarakat. Jika hal ini terus berlarut-larut di kalangan masyarakat atau di suatu negeri, maka tunggulah ancaman Allah sebagaimana yang dinyatakan Nabi saw, “Tiadalah suatu kaum mengurangi takaran, kecuali mereka ditimpa paceklik, sulit mendapat makanan dan dipimpin penguasa dzalim.” Kalau kita lihat dan rasakan, maka rasanya kita benar-benar telah berada dalam kondisi ini. Entah sampai kapan akibat yang ditimbulkannya ini akan berlalu.

 

Ketiga, Tidak Menunaikan Zakat

Ketimpangan sosial tidak akan selesai penanganannya dengan teori ekonomi apa pun dari manusia. Kita telah menyaksikan akibat dari kapitalisme, sosialisme, liberalisme, dll. Allah telah membekali manusia suatu solusi yang ampuh dan telah teruji pada zaman-zaman kejayaan Islam. Misalnya pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, dimana orang -orang fakir miskin terangkat nasibnya, sampai-sampai mereka menolak harta dari Baitul Mal. Pada saat ini jumlah orang kaya tidak sedikit, bahkan di antara mereka ada yang mempunyai gunung, pulau, dll. Mengapa fakir miskin semakin banyak dan tak terkendali? Karena, orang-orang yang mampu dan berkewajiban membayar zakat semakin rapuh kesadarannya. Maka, tunggulah akibat yang diancamkan Allah melalui lisan Nabi-Nya, “Tiadalah suatu kaum enggan mengeluarkan zakat dari harta mereka, kecuali akan terhalang hujan dari langit. Kalau saja bukan karena hewan-hewan itu niscaya tidak akan turun hujan sama sekali.”

Kalau sampai saat ini masih ada hujan, bahkan sampai banjir, maka kita jangan merasa bahwa masih banyak orang-orang kaya kita yang membayar zakat. Sebab hal itu tidak lain karena  masih banyak hewan-hewan di sekitar kita yang masih dikasihi Allah  dengan menurunkan hujan kepada mereka. Sebab, jika kita menyatakan masih banyak orang kaya yang membayar zakat, maka disamping hujan, tandanya adalah tidak adanya ketimpangan sosial.

 

Keempat, Melanggar Janji Allah dan Rasul-Nya

“Tidaklah suatu kaum mengingkari janji, kecuali Allah akan menguasakan atas mereka musuh-musuh yang bukan dari golongan mereka sendiri, dimana musuh-musuh itu mengambil harta yang ada di tangan mereka.” Fenomena ini ada di berbagai negara Islam di dunia. Banyak negara-negara yang mayoritas Islam, ketika berjuang melawan penjajah dengan pekik Allah Akbar, dan berikrar menegakkan kalimat Allah, tetapi ketika kemerdekaan itu telah dicapai justru mereka mengingkari janji mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Jadilah negara-negara tersebut tetap dalam kekuasaan musuh-musuh, yang selalu memeras dan mengeruk habis hasil bumi dan kekayaan negara tersebut.

 

Kelima, Tidak Tunduk pada Hukum Allah

Penyakit yang kelima ini sangat kronis dan parah, kalau diibaratkan penyakit kanker sudah mencapai stadium akhir dan tinggal menunggu ajal. Maka jangan heran, jika timbul perpecahan di kalangan mereka, pertentangan di kalangan elit politik, dan suburnya kekerasan di antara mereka dalam mencari posisi penting masing-masing.

 

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah….

 

Marilah kita tetap istiqamah, sabar, dan tidak berputus asa dalam menghadapi keadaan seperti sekarang ini. Kita harus bangkit untuk berupaya memperbaiki keadan ini. Sebab, jika kita hanya berpangku tangan serta tidak mau mencegah dan memerintahkan yang ma’ruf, maka resiko bagi umat ini akan semakin berat. Semoga dengan rahmat Allah SWT, diri kita, keluarga, lingkungan dan negara kita tercinta ini dapat terhindar dari lima penyakit masyarakat di atas yang dapat membawa kehancuran dan malapetaka. Amin…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here