Merunut Kembali Pendidikan Anak

64

Oleh: Umar Farouq

Hari-hari ini, sebagai orang tua atau wali dari putra-putri yang sedang dalam usia pendidikan, perhatian kita tertuju pada bangku belajar mereka, karena saat ini mereka sedang menempuh masa-masa akhir tahun pelajaran. Tidak lama lagi sebagian mereka akan naik kelas, lulus dan mendapat ranking. Dan mungkin juga ada sebagian yang tidak naik kelas, tidak mendapat ranking atau bahkan tidak lulus.  Bagi yang lulus, apakah akan berhenti  ataukah akan melanjutkan ke jenjang berikutnya, memilih melanjutkan ke mana, bagaimana biayanya, sampai dengan mempersiapkan; bagaimana  akhirnya kelak jika mereka telah dewasa.  Semua itu mengingatkan kita tentang tujuan pendidikan yang hakiki.

KONSEPSIALQUR’AN

Rasulullah SAW –sebagai Maha Guru umat manusia seluruh dunia- dalam Al Qur’an digambarkan sebagai seorang “Rasulan yatluu ‘alaikum ayaatika wayu’allimukum al kitab wa al himah wa yuzakkihim. Beliau adalah seorang Rasul yang membacakan kepada umat manusia ayat-ayat Tuhan, mengajarkan al kitab dan hikmah dan mensucikan mereka. Mengajarkan al kitab dan hikmah dapat dimaknai sebagai mengajarkan ilmu pengetahuan dengan cara mengisi akal dan pikiran. Sedangkan mensucikan tidak lain adalah mendidik akhlak dan budi pekerti. Dengan demikian tujuan pendidikan yang hendak dicapai adalah  agar manusia mampu melaksanakan titahnya sebagai hamba Allah dengan tekun beribadah, sekaligus titah sebagai khalifah atau wakil Allah mengatur isi bumi ini.

Dalam mengemban pendidikan harus senantiasa kita sadari bahwa dalam diri manusia terdapat 3 unsur, yaitu jasmani, akal dan jiwa. Membina jasmani dapat melahiran ketrampilan, membina akal melahirkan ilmu pengetahuan dan membina jiwa melahirkan kesucian. Dengan menggabungkan ketiga hal tersebut akan terwujud keseimbangan antara antara ilmu dan iman, antara dunia dan akhirat.

Selaras dengan hal itu, tujuan pendidikan nasional yang ditetapkan oleh negara kita tercinta. Pendidikan Nasional bertujuan untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya, yaitu (1) memiliki ketakwaan yang tinggi terhadap Allah SWT, (2) cerdas dan terampil, (3) memiliki budi pekerti luhur dan (4) memiliki semangat kebangsaanyang kuat.

Sebenarnya pendidikan anak  adalah tanggung jawab  orang tua sepenuhnya. Akan tetapi karena berbagai keterbatasan, orang tua kemudian menitipkan putra-putrinya kepada lembaga pendidikan, pondok pesantren, madrasah dan atau sekolah. Akan tetapi tidaklah benar apabila selanjutnya kemudian orang tua tidak memperhatikan sama sekali pendidikan putra-putrinya itu. Bukan saja karena memang tidak setiap waktu, selama 24 jam mereka berada di sekolah atau madrasah, namun juga ternyata tidak semua lembaga pendidikan benar-benar mampu dan sadar dalam menerima amanah mendidik.

Juga tidak benar apabila hanya mengandalkan keluarga dan lembaga pendidikan saja, apalagi pada jaman seperti sekarang ini. Karena disamping memiliki lingkungan pergaulan,  pesatnya perkembangan tehnologi, informasi dan komunikasi, sama-sama sangat berpengaruh kuat pada baik-buruknya putra-putri kita. Oleh karena itu, mustahil jika kita berharap tujuan pendidikan dapat tercapai apabila satu pihak melakukan pembinaan -dengan sangat serius sekalipun-, sedangkan pihak lain tidak memberikan dukungan atau bahkan merobohkan bangunan pendidikan yang telah ditegakan sedikian rupa itu.

 

SYARAT DAN RUKUN MENDIDIK

Mendidik anak tidak hanya dengan mencukupi atau bahkan menetapkan anggaran biaya yang besar bagi pendidikannya.  Lebih dari itu juga kita juga senantiasa mendoakan mereka dalam berbagai bentuknya, termasuk diantaranya tidak sekali-sekali memberi konsumsi makanan haram kepada mereka. Jika biaya dan doa adalah laksana Syarat Sah dalam mendidik yang harus ditunaikan, maka terdapat Rukun-rukun mendidik yang juga harus disertakan. Setidaknya ada 5 Rukun yang dapat dirumuskan, yaitu; (1) Al Qudwah-Keteladanan. Rukun ini menjadi rukun pertama dan utama. Tanpa adanya keteladanan dari pendidik niscaya  rukun-rukun lainnya, atau bahkan pendidikan itu sendiri menjadi sia-sia sama sekali. (2) Al ‘Adah-Pembiasaan. Rukun ini menyadarkan kita bahwa pendidikan tidaklah sederhana, singkat dan semudah membalik telapak tangan. Pendidikan adalah ikhtiyar terus-menerus, konsisten, dan butuh waktu yang panjang. (3) Al Mau’idzah-Nasehat baik. Rukun ini sangat dibutuhkan sebab tidak selalu keteladanan dan pembiasaan dapat dinalar secara baik oleh peserta didik. Nasehat juga harus dilalui sebelum rukun keempat dan kelima diterapkan, yaitu (4-5) Ats Tsana’-Penghargaan dan Al ‘Uqubah-Hukuman. Kiranya kelima rukun inipun juga harus diterapkan secara Tartib sesuai urutan  di atas.

Disamping sebagai amanah dari Allah SWT, putra-putri kita adalah tabungan dan investasi bagi orang tua, almamater dan masyarakatnya. Putra-putri yang lahir, tumbuh dan berkembang dari keluarga yang baik dan harmonis, belajar di lembaga pendidikan yang sadar dan bertanggung jawab dalam mengemban amanah,  memiliki lingkungan pergaulan yang sehat, serta dapat memanfaatan perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi secara benar, maka siapa lagi yang kelak akan menerima kemulyaan dunia-akhirat, kalau bukan keluarga, almamater, masyarakat dan diri mereka sendiri.–

SHARE
Previous articleKeutamaan Puasa Ramadan
Next articleHarta yang Dizakati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here