Masjid Kita

61

Oleh : Umar Farouq

SPIRIT MORAL Dalam sebuah hadits riwayat Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, yang artinya: “Kelak pada Hari Kiamat hanya terdapat 7 kelompok manusia yang akan mendapatkan perlindungan Allah SWT saat mana tiada yang lain dapat memberikan perlindungan…..” Satu diantaranya adalah seseorang yang hatinya senantiasa tertambat di masjid. Tertambatnya hati tersebut artinya hatinya senantiasa mengajak berangkat ke masjid. Apabila agak lama tidak ke masjid  hatinya menjadi gelisah.

Rasulullahpun memberikan teladan dan pendidikan terhadap ajaran mulia ini. Ketika beliau melakukan hijrah ke Madinah, yang saat itu masih bernama Yatsrib, hal pertama yang beliau lakukan tidak lain adalah membangun masjid. Meskipun sangat sederhana, kecil, berlantaikan tanah dan beratap pelepah kurma, justru dari masjid yang seperti inilah beliau ‘memasjidkan’ dan ‘memakmurkan’ dunia ini. Dari masjid inilah beliau memulai segala gerak perjuangan beliau. Hingga pada akhirnya kota di mana masjidfF tersebut berdiri benar-benar menjelma menjadi Al-Madinah, yang artinya tempat peradaban dan kemajuan, sesuai dengan nama yang disandang.

Kenapa masjid?

Karena di masjidlah manusia mendapatkan cahaya Tuhan, yang digunakannya sebagai pelita dan bekal kehidupan dan bergaul dengan sesama. Dari masjidlah manusia tahu dengan sesungguhnya dari mana dan hendak ke mana kehidupan ini harus menuju. Karenanya kita menyebut masjid sebagai Rumah Tuhan.

Oleh karena itu, ketika sebagian Sahabat Rasulullah merasa kecewa sebab tempat tinggalnya jauh dari masjid, Allahpun melipur kekecewaan mereka. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kamilah yang akan menghidupkan yang telah mati dan Kami akan mencatat amal-amal dan menghitung jejak langkah orang-orang yang berangkat ke masjid.” (Yasin; 36)

FUNGSI MASJID

Oleh Rasulullah SAW masjid Nabawi di atas, demikian pula oleh para Sahabat, masjid-masjid besar difungsikan sedemikian efektif, mulai sebagai temat beribadah, seperti shalat, dzikir, i’tikaf hingga sebagai tempat pendidikan, santunan sosial, latihan dan penyiapan peralatan perang, merawat para korban, menahan tawanan perang, mendamaikan dan pengadilan sengketa, menerima tamu, penerangan dan pembelaan agama.

Mungkinkah  saat ini semua itu kembali diperankan oleh masjid?Waktu berganti dan jamanpun berubah. Saat ini telah sangat banyak lembaga-lembaga, organisasi-organisasi –bersifat swasta maupun dikelola negara-  yang telah memerankan sebagian dari fungsi masjid-masjid masa dulu. Bahkan tidak sedikit diantara lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi tersebut yang memiliki kemampuan financial dan managerial melebihi masjid. Karena itu sebagian dari fungsi-fungsi beragam di atas sudah sulit atau bahkan tidak efektif lagi jika diperankan oleh masjid. Sementara sebagian yang lain –dan itupun masih banyak—yang bisa dan bahkan lebih efektif diperankan oleh masjid-masjid saat ini. Kunci dari prestasi yang tercatat dalam lembar sejarah masjid-masjid masa itu tidak terlepas dari adanya kemampuan dan kebijaksanaan para pembina masjid dalam menyesuaikan realitas kehidupan umat dengan program dan kegiatan masjid, disamping bahwa para pejabat pemerintah pada masa itu kebetulan adalah para imam dan khatib masjid.

FIQH MASAJID DAN PESONA KEMEGAHAN

Amat disayangkan, beberapa hal hingga saat ini masih terjadi dan perlu terus-menerus disuarakan untuk diminimalisir. Yaitu, asumsi yang berlebihan terhadap kesucian masjid dan pesona kemegahan semu.

Memang benar bahwa masjid harus dihindarkan dari segala hal yang dapat merusak atau mengurangi kesucian dan kehormatanya. Karena itulah masjid harus terhindar dari sumber najis, kotor, adanya peminta-minta, persengketaan, permusuhan, praktek jual beli, mencari barang hilang, dan adanya anjuran i’tikaf, shalat  Tahiyyat (menghormat) masjid, mengenakan busana yang indah serta tidak buru-buru datang masuk masjid begitu usai mengkonsumsi makanan yang beraroma tajam, sebagaimana hal-hal itu dinyatakan dalam Al-Qur’an dan Hadits. Demikian juga referensi-referensi agama lainnya. Akan tetapi, memandang masjid sedemikian sakral, dengan mengabaikan pendekatan sosiologis dan manajemen, justru hanya berakibat umat menjadi jauh. Masjid selalu dalam suasana tenang dan bebas dari hiruk-piku aktifitas bukanlah gambaran masjid Nabawi yang diteladankan oleh Rasulullah.

Hal lain adalah pesona kemegahan semu. Memakmurkan masjid sejatinya dilakukan dengan 2 cara, fisik dan non fisik (Hissy dan Maknawi). Memakmurkan masjid secara fisik adalah membangun, mengembangkan, merawat dan melengkapi sarana-sarana pendukung. Sedangkan secara non fisik adalah melaksanakan kegiatan peribadatan, pendididkan dan sosial. Kedua cara ini sama-sama mulia. Akan tetapi memetik kisah masjid Nabawi pada masa awal, kiranya kemakmuran fisik tidak sepenting kemakmuran non fisik. Sayangnya, kini, bahkan telah lama, prinsip demikian diabaikan. Banyak orang merasa bangga jika bangunan masjidnya megah dan dikagumi, meskipun di sana tidak terdapat aktifitas karena  pintunya selalu dalam keadaan terkunci rapat-rapat. Kiranya benar ketika para ahli menganalisa bahwa kemegahan dan keindahan masjid-masjid besar dalam dunia Islam itu ternyata hanyalah untuk menutup-nutupi tidak efektifnya fungsi-fungsi yang harus diperankannya.

Akibatnya, ketika seorang muslim lewat, ia terpana dan berdecak kagum memandangi bagian demi bagian bangunan masjid itu. Namun kemudian dia berlalu begitu saja, tidak terpanggil untuk ‘masuk’ menemui Tuhannya, apalagi kemudian  ‘me-masuk -kan’ Tuhan dalam hatinya. Yang lebih ironis lagi, apabila orang tersebut tinggal di dekat masjid dengan kondisi hidup yang serba kekurangan.

Marilah, seiring dengan atau bahkan melebihi kemakmuran masjid secara fisik, kita galakkan kemakmurannya secara maknawi. Dan untuk itu di satu sisi, kreatifitas para Wali Sanga di Tanah Jawa dalam menggiring umat melalui berbagai macam pendekatan dapat kita teladani, dan di sisi lain  banyak remaja dan pemuda yang bisa dilibatkan dalam aktifitas bahkan pengelolaan masjid secara arif.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here