Gafatar dan Pentingya Dakwah Kultural

55

Oleh: Sholahuddin*

Seminggu yang lalu, harian Jawa Pos Radar Pati menegaskan berita yang menghentakkan kita semua, seorang mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta di Semarang sudah 3 bulan hilang dan raib entah kemana, terakhir kali sang mahasiswi pamitan untuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Malaysia, tetapi setelah di cross-chek kekampus, dikampus tidak menyelenggarakan kegiatan KKN.  Sampai berita tersebut diturunkan mahasiswi tersebut belum diketemukan oleh keluargannya.

Dari beberapa penelusuran yang dilakukan oleh keluarga ke teman-teman si mahasiswi tersebut, terendus kabar bahwa mahasiswi ini telah beberapa kali mengikuti kegiatan sosial, laiknya memasak, menjahit yang diprogramkan oleh GAFATAR (Gerakan Fajar Nusantara)

Apakah Gafatar itu? Bagaimana sepakterjangnya, Gafatar adalah sebuah gerakan metmorfosis dari gerakan Musadeq. Musadeq adalah pensiunan tentara yang mendakwahkan dirinya menjadi seorang Nabi, setelah bertapa disebuah Vila di desa Lakapura Bogor, Musadeq mendeklarasikan dirinya sebagai Al-mau’ud (yang dijanjikan).

KH Said Aqil Siradj dalam sebuah artikel di Kompas, 20 januari 2016 menengarai bahwa Gerakan Fajar Nusantara adalah NII (Negara Islam Indonesia) dengan mengambil gaya baru.

Fenomena Gafatar dan menguatnya radikalisme menjadi bagian penting yang perlu untuk diseriusi oleh civitas akademika, termasuk juga oleh IPMAFA (Institut Pesantren Mathaliul Falah). Bedah buku yang diselenggarakan BEM PRO PMI dengan membedah buku Strategi Dakwah Kultural menjadi penting untuk dilakukan.

Gafatar dan radikalisme berbasis agama menjadi pantulan bagi segenap aktivist dakwah untuk bisa muhasabah terhadap metode-metode dakwah yang dilakukan. Dakwah yang sering dilakukan adalah dakwah bil maqal yang seringkali hanya cereonial semata, tanpa meninggalkan efek nyata terhadap perubahan dalam masyarakat.

Buku ini menjadi penting karena manfsirkan Dakwah tidak dengan maqal tetapi dakwah sebagai transformasi sosial masyarakat. Tulisan Mbah Siswanto misalnya menganalisa dengan bagus bagaimana strategi nelayan Keboromo dalam mempertahankan eksistensinnya.

Bagian Kedua dari buku ini mengupas tentang bagaimana strategi dakwah di masyarakat desa Jrahi, kecamatan Gunung Wungkal. Di Jrahi ada sebuah wihara yang cukup besar dengan berbagai macam agama yang dipeluk oleh penduduknya. Ditemukan penganut  agama Islam, Kristen dan Budha di desa Jrahi. Di desa ini mereka hidup rukun dalam semangat kegotongroyongan yang tinggi. Bahkan sebagaimana diungkapkan dalam penelitiannya, ada satu keluarga yang multi religi, Tulisan Sulikah mendeskripsikan secara menarik bagaimana kehidupan masyarakat didesa tersebut.

Buku ini—yang merupakan bunga rampai dari makalah matakuliah Psikologi Dakwah yang diampu oleh Bapak Faiz Aminudin MA merupakan kumpulan dari berbagai penelitian pengembangan masyarakat yang telah dilakukan oleh mahasiswa PMI IPMAFA.

Buku ini menjadi salah satu bagian atau eksemplar penting dalam memberikan perspektif dakwah kepada para juru dakwah yang selama ini monoton dakwah bil maqal. Disinilah menurut hemat saya kontribusi dari buku ini, apalagi maraknya gerakan radikalisme dan Gafatrisme yang merambah bumi Nusantara.

Buku ini bukan tanpa cacat, ada beberapa salah ketik dan juga beberapa klasifikasi yang perlu untuk dikonfirmasi ulang ke beberapa penulis. Misalnya penggolongan atau kalsifikasi masyarakat pesantren yang dimasukkan dalam item masyarakat pinggiran. Apakah Pesantren di kajen bisa dikatakan pinggiran? Mana yang kemudian bisa disebut sebagai pinggira dan mana yang pusat?

********

Kembali ke Fenomena Gafatar dan menguatnya Radikalisme, kira-kira apa yang diperlukan umat Islam untuk bisa membentengi dirinnya dan keluarganya dari serangan Gafatar ini?  Pertama; lebih menggalakkan cara atau metode dakwah bil hal. Dakwah bil hal lebih bisa dirasakan bagaimana efek dan dampaknya bagi masyarakat. Kedua; penguatan Dakwah kultural dengan mengadopsi budaya setempat sepanjang budaya tersebut tidak bertentangan dengan maqasid Syari’ah.

Ketiga: hati-hati didalam memilih seorang guru dalam mengkaji agama Islam. Pengalaman dr. Rica yang ditemukan di Pangkalan Bun dalam sebuah perjalanan ke Kalimantan menunjukkan bahwa penting memilih dan memilah guru atau halaqah kajian Islam yang sesuai dengan Islam Rahmatan Lil Alamin.

Dokter Rica yang menjadi seorang dokter dinyatakan hilang dengan membawa seorang anaknya yang masih bayi. Dikabarkan dr Rica akan hijrah ke Kalimantan karena Jawa sudah dipenuhi oleh thoghut laiknya hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Medinah. Untungnya ketika baru sampai pangkalan Bun, dr Rica telah diketemukan, dan dari sini kemudian menyingkap banyak tentang sepakterjang GAFATAR. Wallahu A’lam Bi Ashawaab.

*Penulis adalah Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) IPMAFA, Artikel merupakan penghantar Diskusi dan launching buku

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here