Ucapan Selamat non Muslim

89

Pertanyaan :

Beberapa kali saya menerima ucapan selamat menunaikan puasa Ramadlan dan merayakan Idul Fiitri dari non muslim. Bagaimana saya menjawabnya?

(Sunariyah, Kayuapu, Gondangmanis, Bae, Kudus)

 

Jawaban :

            Segala sesuatu yang tidak dijelaskan dalam Al Qur’an, hadits atau khazanah referensi ulama terdahulu karena merupakan hal yang baru muncul kemudian seringkali memunculkan pendapat yang berbeda-beda. Demikian juga jika hal tersebut telah disinggung dalam salah satu atau ketiga referensi tersebut, namun realitas kehidupan dan kondisi sosial sudah berbeda sama sekali dengan latar belakang yang menyertai kemunculan ketiga referensi itu.

            Pola hubungan muslim dan non muslim yang berkembang dari waktu ke waktu dan dinamika yang berbeda antara satu kawasan dengan kawasan lain juga menjadi faktor munculnya perbedaan. Belum lagi faktor latar belakang para ulama yang memunculkan pendapat. Semua itu semakin membuka terjadinya perbedaan pendapat terkait hukum suatu hal.

Namun perlu diingat bahwa selagi masing-masing ulama berpegangan pada ketentuan ilmiah dan tulus ikhlas dalam berpendapat maka semuanya berhak mendapatkan pahala berijtihad. Kelak di akhirat yang terbukti benar akan mendapatkan 2 pahala dan yang salah mendapatkan 1 pahala.

Disamping itu –berbeda dengan kebanyakan hukum posistif– karakter hukum fiqh sendiri mengikat umat Islam secara lahir batin, sehingga semua selalu berdasarkan kesadaran transendental dan akan dipertanggung jawabkan kelak di akhirat. Sedangkan terkait dengan hikmah adanya perbedaan pendapat di alam dunia ini, Rasulullah SAW menyatakan bahwa perbedaan umat beliau adalah rahmat.

Latar belakang sebagaimana di atas perlu kami kemukakan karena dalam menilai bagaimana hukum menyampaikan ucapan selamat pada momentum atau hari-hari besar keagamaan kepada  non muslim dan sebaliknya terdapat perbedaan yang sangat kuat. Sebagian ulama menilai hal tersebut hukumnya haram hingga sampai dinilai mengakibatkan kafir dan sebagian yang lain menilainya mubah hingga sampai menilainya sunnat.

Terdapat beberapa bentuk dan tingkat hubungan penghormatan terhadap momentum hari besar umat agama lain :

Pertama, dalam bentuk mengikuti peribadatan atau ritual keagamaan mereka. Dalam menilai bentuk ini semua ulama sepakat bahwa hal itu haram dan mengakibatkan kafir.

Kedua, dalam bentuk menghadiri upacara atau seremoni perayaan mereka. Dalam menilai bentuk ini mulai muncul perbedaan pendapat, yakni ada yang mengharamkan atau sampai menilainya kafir dan ada yang memperbolehkan atau setidaknya menilainya makruh.

Ketiga, memberi ucapan selamat kepada mereka. Dalam menilai bentuk ini juga muncul perbedaan pendapat, yakni ada yang mengharamkan dan ada yang memperbolehkan bahkan menganjurkan.

Faktor utama perbedaan pendapat pada bentuk kedua dan ketiga di atas terletak pada penilaian apakah tindakan itu merupakan bentuk pengakuan kebenaran, dukungan atau simpati terhadap akidah mereka ataukah tidak. Jika motif-motif itu yang mendasari maka para ulama sepakat mengharamkan dan menilai kafir, karena jelas tindakan ini –sebagaimana bentuk pertama– mengganggu akidah kita.

Sedangkan jika motif-motif tersebut tidak ada maka muncul perbedaan pendapat. Kelompok yang menilai haram atau kafir beralasan bahwa bentuk-bentuk tersebut masih tidak bisa lepas dari moti-motif itu dan karenanya tetap mengganggu akidah. Sedangkan yang menilai boleh, atau menganjurkannya beralasan bahwa masalahnya sudah tidak tidak lagi berhubungan dengan akidah, namun sudah murni masalah etika sosial. Penghormatan bentuk kedua dan ketiga muncul karena tuntutan etika pergaulan, untuk menjaga sikap saling menghormati antar umat beragama. Sebagian dari kelompok ini menambahkan penjelasan bahwa bagi orang yang secara etika sosial tidak tertuntut melakukan bentuk kedua atau ketiga maka baginya makruh melakukannya.

Berangkat dari penjelasan di atas dapat ditelusuri hal yang sebaliknya yaitu jika kita menerima bentuk-bentuk tersebut dari non muslim. Mengikuti kelompok pertama kita dilarang menyampaikan balasan terima kasih apalagi melakukan hal yang sama pada momen-momen hari besar mereka. Dan menurut kelompok kedua kita dianjurkan menyampaikan balasan terima kasih bahkan melakukan hal yang sama kepada mereka, lebih-lebih karena mereka telah memulai lebih dahulu. (Dirangkum dari berbagai fatwa dan keputusan bahtsul masa’il) —

SHARE
Previous articleZakat Fitrah
Next articleMinal Aidin wal Faizin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here