Zakat Fitrah

74

Pertanyaan :

Kapan waktu yang baik untuk mengeluarkan zakat fitrah? Dan bolehkan Zakat Fitrah diberikan dalam bentuk uang agar lebih efisien dan efektif?

Ah. Suaib, Lasem Rembang

Jawaban :

Zakat fitrah atau shadaqah al-fitr adalah ibadah wajib yang berhubungan langsung dengan puasa Ramadan, sebab zakat fitrah ini dilaksanakan mengiringi selesainya bulan ramadan. Kewajiban zakat fitrah adalah kewajiban individual, artinya setiap orang muslim baik besar maupun kecil, laki-laki maupun perempuan, wajib mengeluarkan zakat fitrah. Seorang bayi yang lahir pada detik-detik terakhir bulan ramadan, kemudian ketika telah memasuki bulan syawal beberapa detik bayi tersebut meninggal, maka ia terkena kewajiban mengeluarkan zakat fitrah. Tentu saja kewajiban zakat fitrah seorang bayi dibebankan kepada orang tuanya sebagai wali yang menanggung nafkahnya.

Diantara manfaat dari zakat fitrah adalah jabru naqshi al shaumi, menutupi kekurangan puasa ramadan. Maksudnya adalah apabila selama menjalankan puasa ramadan terdapat kekurangan-kekurangan yang tidak disadari, seperti perkataan jorok, bergurau (al-laghwu) yang berlebihan, perbuatan maksiat dan lain sebagainya yang bisa mengurangi nilai puasa maka hal itu bisa ditutupi dengan ditunaikannya zakat fitrah. Dalam hal ini zakat fitrah serupa dengan sujud sahwi dalam shalat yang bisa menutupi kekurangan yang terjadi dalam shalat (al-fiqh al-islami, 2:902). Selain itu, zakat fitrah juga berfungsi sebagai bentuk praktis dari sikap peduli terhadap sesama (khususnya kepada orang miskin) yang telah diasah selama bulan ramadan. Sehingga pada saat hari raya Idul Fitri orang-orang miskin akan terhindar dari meminta-minta karena telah memiliki cukup makanan. Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “Cukupkanlah mereka (orang miskin) sehingga mereka tidak berkeliling meminta-minta pada hari ini (idul fitri). Dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Abbas juga diterangkan bahwa Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perkataan buruk, jorok dan gurauan selama menjalankan puasa serta untuk memberi makan orang-orang miskin.

Menurut pendapat ulama Syafi’iyah kewajiban membayar zakat fitrah berlaku sesaat setelah masuk bulan syawal sesudah terbenamnya matahari pada akhir bulan ramadan. Waktu ini disebut dengan istilah waqtul wujub (waktu wajib). Sedangkan ketika sudah masuk bulan ramadan disebut dengan waqtul jawaz (waktu boleh), artinya zakat fitrah sudah mulai boleh dikeluarkan sejak masuknya bulan ramadan. Akan tetapi waktu yang paling utama untuk mengeluarkan zakat fitrah adalah setelah subuh dan sebelum shalat Idul Fitri dilaksanakan, sebab hal itu sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, selain juga sejalan dengan salah satu maksud dari zakat fitri untuk memberikan kecukupan bagi orang-orang miskin pada hari raya Idul Fitri. Sedangkan jika zakat fitrah ditunda pelaksanaannya sampai akhir hari raya Idul Fitri (terbenamnya matahari) maka hukumnya makruh. Dan menjadi haram jika ditunaikan setelah itu tanpa ada udzur yang jelas (Al-Bajuri, 1:414-415).

Zakat fitrah harus diberikan dalam bentuk bahan makanan setempat. Dalam konteks Indonesia secara umum bahan makanan ini berarti beras, sebesar satu sha’ atau sekitar 2,5 kilogram. Adapun jika menggunakan uang yang senilai dengan bahan makanan pokok untuk membayar zakat maka –kecuali ulama madzhab Hanafi– mayoritas ulama (jumhur) sepakat hal itu tidak boleh karena bertentangan dengan nash hadits (Al-Fiqh al-Islami, 2:911). Kecuali jika misalnya uang tersebut diserahkan kepada panita zakat untuk nanti dibelikan bahan makanan pokok sebagai zakat fitrah maka hal itu tidak menjadi masalah. Akan tetapi jika uang tersebut diterimakan secara langsung kepada fakir miskin sebagai zakat fitrah maka hal itu tidak sah.–

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here