Zakat; BPIH, kepada Ibunda dan Profesi Guru

53

Pertanyaan :

1. Apakah uang yang disetor ke bank untuk ongkos haji 25 juta ada zakatnya, padahal keberangkatannya masih lama?

(Faiq, Gabus Pati)

2. Bolehkan guru swasta yang sudah sertifikasi dikategorikan Sabilillah dan mendapatkan zakat fitrah ?

(Sumo, Dawung Dukuhseti Pati)

3. Ibu saya seorang janda dan penghasilannya hanya cukup untuk dirinya sendiri. Bolehkah zakat saya  saya berikan kepada beliau?

(Afa-Kudus)

 

Jawaban :

Seseorang berkewajiban zakat harta (maal) jika memenuhi syarat-syarat sebagai berikut (I’anatut Thalibin; 2/148-149) :

Pertama, beragama Islam. Karena itu zakat tidak wajib atas orang kafir asli. Sedangkan orang murtad, jika kemurtadannya terjadi setelah berkewajiban zakat maka hartanya tetap diambil untuk zakat, baik dia kembali lagi memeluk Islam maupun tidak. Dan jika kemurtadannya sebelum berkewajiban zakat maka jika kelak kembali memeluk Islam maka dia wajib mengeluarkan zakat.

Kedua, kepemilikan yang sempurna. Karena itu budak tidak berkewajiban zakat karena tidak mempunyai wewenang memiliki harta. Apalagi jika seseorang telah membelanjakan hartanya dan hilang hak miliknya atas harta tersebut, maka harta tersebut tidak wajib dia zakati. Demikian halnya kepemilikan calon haji atas Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH). Karena kepemilikannya atas biaya tersebut telah hilang maka biaya tersebut tidak wajib dia zakati, meskipun keberangkatan hajinya tidak seketika setelah pembayaran dilakukan. Sedangkan kepemilikan yang tidak sempurna adalah kepemilikan harta oleh budak Mukatab (budak yang sedang dalam proses menebus kemerdekaannya), karena dia tidak memiliki keleluasaan atas harta yang dimilikinya itu.

Ketiga dan keempat, memiliki nishab (batas minimal harta wajib dikeluarkan zakatnya) dan telah melewati haul  (masa setahun) untuk beberapa harta zakat tertentu.

Kewajiban zakat tidak mensyaratkan baligh, sehat kejiwaan maupun kecakapan (rusyd) pada diri pemilik harta. Oleh karena itu selama memenuhi syarat-syarat lainnya, harta yang dimiliki anak kecil, orang gila atau orang idiot wajib dikelurkan zakatnya oleh wali-wali mereka.

Sedangkan kelompok penerima zakat (Mustahiq), baik zakat harta maupun fitrah ada 8, yaitu (Ianatut Thalibin; 2/187-194) :

Pertama, orang fakir, yaitu orang yang tidak memiliki harta atau pekerjaan layak untuk menutup kebutuhan dirinya dan orang-orang yang dinafkahinya.

Kedua, orang miskin yang memiliki harta atau pekerjaan untuk menutupi kebutuhannya dan orang yang dinafkahinya, namun masih belum mencukupi.

Meskipun seseorang telah memiliki rumah yang layak baginya, pakaian bagus untuk momen-momen tertentu, kitab-kitab kebutuhannya, budak yang melayaninya, atau pekerjaan yang tidak layak bagi kehormatannya, dia masih dapat dikategorikan fakir atau miskin. Karena pengertian fakir dan miskin mengacu kepada kebutuhan seseorang, bukan mengacu pada fasilitas yang dia miliki maupun status atau profesi yang dia tekuni.

Ketiga, Amil, yaitu pengelola zakat yang diangkat atau ditetapkan oleh pemerintah, meliputi petugas pemungut, pembagi, pengumpul para mustahik dan fungsi lainnya.

Keempat, Muallaf, yaitu orang yang baru masuk Islam.

Kelima, budak Mukatab.

Keenam, Gharim, yaitu orang yang terbebani hutang baik untuk kebutuhan diri sendiri, untuk mendamaikan pihak-pihak yang berseteru maupun untuk dijadikan jaminan orang lain.

Ketujuh, Sabilillah, yaitu orang yang berjuang di medan perang secara sukarela tanpa dapat gaji. Demikian definisi Sabilillah yang disepakati mayoritas ulama. Salah satu riwayat Imam Ahmad menafsirkan Sabilillah sebagai orang yang hendak pergi haji, sebagian ulama madzhab Hanafi menafsirkan orang yang mencari ilmu dan Imam Al Kasani menafsirkan semua hal terkait kepentingan umum. Namun semua ini tidak sesuai dengan konteks ayat yang menjelaskan para penerima zakat (QS 9; 60) (At Tafsir al Munir li Az Zuhaili; 5/627-628).

Kedelapan, Ibnu Sabil, yaitu orang yang kehabisan bekal perjalanan dan sedang melewati wilayah zakat atau orang yang hendak bepergian dan membutuhkan bekal perjalanan.

Berbeda dengan sedekah sunat yang bisa diberikan kepada kelompok lain, zakat hanya diberikan kepada 8 kelompok di atas dan itupun dengan beberapa ketentuan tambahan sebagai berikut  (Al Fiqh al Manhaji as Syafi’i; 1/201-206) :

Pertama, dalam madzhab Syafi’i tidak cukup hanya diserahkan satu kelompok, atau 1 orang di satu kelompok. Namun para imam pengikut madzhab ini sendiri kemudian tidak mensyaratkan demikian.

Kedua, penerima adalah muslim.

Ketiga, penerima bukan keturunan Bani Hasyim atau Bani Muthalib. Namun belakangan mulai muncul pendapat bahwa mereka boleh menerima zakat, karena saat ini –tidak sebagaimana dahulu– mereka tidak lagi menerima seperlima bagian dari harta Ghanimah (rampasan perang).

Ketiga, penerima bukanlah orang yang nafkahnya menjadi kewajiban Muzakki (orang yang berzakat), karena jika itu dilakukan sama halnya manfaat zakat kembali kepada Muzakki dan lagi pula sebenarnya dengan nafkah itu penerima tidak memerlukan zakat.

Berdasarkan hal itu zakat tidak boleh diberikan kepada ayah, ibu, kakek atau nenek ke atas, karena nafkah mereka menjadi kewajiban anak cucu. Demikian juga tidak boleh memberikan zakat kepada anak-cucu yang masih kecil, atau sudah dewasa namun gila atau sakit, karena nafkah mereka menjadi kewajiban ayah atau kakek mereka. Begitu pula zakat tidak boleh diberikan kepada istri, karena nafkah istri menjadi kewajiban suami. Jika hal –hal itu dilakukan maka zakatnya tidak sah.

Akan tetapi memberikan zakat kepada orang yang dinafkahi ini dilarang apabila karena status mereka sebagai fakir atau miskin. Sedangkan jika karena status yang lainnya, misalnya sebagai Gharim atau Sabilillah maka hal itu diperbolehkan.

Bahkan disunnatkan bagi istri yang kaya dan berkewajiban zakat, untuk memberikan zakatnya kepada suami atau anak-anaknya apabila mereka miskin. Hal ini karena nafkah suami dan anak-anak tidak menjadi kewajiban istri atau ibu mereka. Dan jika ini dilakukan maka akan menghasilkan 2 pahala, yaitu pahala zakat dan pahala kekerabatan.

Demikian juga kerabat yang tidak wajib dinafkahi, seperti saudara, paman atau bibi dari ayah maupun ibu, serta anak-anak mereka, bahkan anak sendiri yang sudah dewasa dan bisa bekerja namun belum mampu mencukupi kebutuhan sendiri. Mereka semua ini dapat menerima zakat atas nama kelompok penerima yang mana saja.–

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here