Shadaqah ataukah Membayar Hutang

46

Pertanyaan :

Manakah yang lebih utama antara shadaqah dengan membayar hutang jika kami misalnya memiliki uang 1 juta Rupiah dan pada saat yang sama berhutang 2 juta rupiah? Sebab untuk melunasi hutang tentu saja belum cukup?

Rochmat di Jepara

 

Jawaban :

Shadaqah adalah pemberian hak milik yang bukan wajib, dilaksanakan saat masih hidup, dengan tujuan mengharapkan pahala atau karena dibutuhkan oleh penerimanya. Apabila pemberian tersebut bersifat wajib maka disebut zakat, apabila dilaksanakan sesudah meninggal disebut wasiat dan jika bertujuan memberikan penghormtan disebut hadiah. Shadaqah bersama dengan Hadiah termasuk dalam pemberian tidak wajib yang secara umum disebut dengan Hibah. Namun karena tujuan masing-masing keduanya berbeda, maka Rasulullah SAW menerima hadiah dan tidak menerima shadaqah (Al Bajuri; 2/47)

Hukum asal shadaqah adalah sunnat. Sangat banyak ayat Alqur’an maupun hadits yang menegaskan demikian.  Namun shadaqah bisa berubah menjadi wajib karena kita mendapati seseorang yang sedang sekarat sedang kita memiliki kelebihan makanan, berubah menjadi haram karena mengetahui shadaqah kita akan digunakan untuk kemaksiatan, menjadi makruh karena misalnya berupa makanan yang telah dimakan rengat. Tidak makruh shadaqah berupa uang recehan atau pakaian bekas pakai dan sejenisnya. Bahkan sebaiknya kita tidak memandang rendah shadaqah yang hanya sedikit seperti dan sebaiknya tidak melewatkan hari tanpa bershadaqah.

Barang yang paling utama untuk dishadaqahkan adalah air karena banyak manfaatnya,  disusul kemudian makanan, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits.

Terdapat waktu-waktu dan tempat-tempat tertentu yang lebih utama untuk bershadaqah dibanding waktu dan tempat lain. Hal ini bukan berarti dianjurkan menunda shadaqah hingga waktu atau tempat utama ada, namun maksudnya agar pada waktu dan tempat tersebut shadaqah hendaklan diperbanyak.

Waktu mulia tersebut antara lain adalah bulan Ramadlan terutama 10 hari terakhir, dimana –-disamping adalah bulan dan hari-hari paling mulia—kebanyakan orang saat itu sedang sibuk beribadah dan mengurangi intensitas kerja. Demikian juga pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, dua hari raya, hari Jum’at serta pada momen-momen penting, misalnya saat berperang, saat berhaji, saat sakit, saat bepergian dan lain sebagainya. Tempat mulia   misalnya adalah Makkah dan Madinah.

Shadaqah lebih utama diberikan kepada kerabat dengan urutan mulai dari yang paling dekat yaitu mahram, suami-istri, lalu yang bukan mahram, lalu mahram karena hubugan persusuan, kemudian hubungan perkawinan. Asalkan masih dalam satu daerah, memberikan shadaqah kepada kerabat lebih baik daripada kepada tetangga. Tetangga dekat juga lebih utama dibanding tetangga jauh.

Ketentuan mengenai kerabat  dekat di atas meliputi kerabat yang tidak wajib kita nafkahi maupun yang wajib, tidak sebagaimana zakat yang tidak boleh diberikan kepada orang yang wajib kita nafkahi.

Juga tidak sebagaimana zakat, shadaqah lebih utama diberikan secara sembunyi-sembunyi. Yang dimaksud sembunyi-sembunyi tidak hanya tanpa sepengetahuan orang lain, namun juga menyamarkannya dalam bentuk misalnya sengaja menjual dagangan di bawah harga semestinya, atau memberikan shadaqah di hadapan orang lain dengan kesan sedang membayar hutang. Sedangkan zakat lebih utama diberikan secara terbuka, terutama harta zakat yang tampak oleh orang lain, asalkan tidak menimbulkan riya’  atau dalam pembagiannya tidak memicu kekisruhan.

Namun meskipun demikian semua, tidak disunnatkan menshadaqahkan harta yang kita butuhkan sendiri. Bahkan haram jika harta itu kita butuhkan untuk menafkahi dan mengongkosi orang yang wajib kita nafkahi.  Rasulullah SAW bersabda, “Cukuplah bagi seseorang dosa yang dia lakukan akibat menelantarkan orang yang nafkahnya dia tanggung.” Haram juga menshadaqahkan harta jika harta itu kita butuhkan untuk membayar hutang, meskipun belum jatuh tempo atau belum ditagih, sebab membayar hutang adalah suatu kewajiban dan karenanya tidak boleh diabaikan atau ditunda demi mendapatkan kesunnatan shadaqah.

Ketentuan haram ini berlaku jika kita tidak mempunyai pemasukan lain yang bersifat pasti untuk digunakan membayar hutang tersebut pada saatnya. Pemasukan yang bersifat pasti misalnya adalah memiliki aset yang disewakan atau dihutang pihak lain yang mudah diminta. Sedangkan pemasukan tidak pasti misalnya adalah mengharapkan pemberian dari orang lain.

Bahkan Ibnu Ziyad –seorang ulama madzhab Syafi’i– berpendapat bahwa apabila shadaqah yang telah dilakukan tersebut status hukmnya haram, maka si penerima tidak berhak memilikinya (disarikan dari I’anatut Thalibin; 2/208-214).–

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here