Gosok Gigi Saat Berpuasa

51

Pertanyaan :

Bolehkah menggosok gigi dengan pasta gigi pada saat berpuasa?

Siti Faizah, Kaliwangan Blora

Jawaban :

Islam adalah agama yang selalu menganjurkan umatnya untuk menjaga kebersihan, baik secara maknawi maupun fisik. Bahkan dalam sebagian ibadah seperti shalat,  kebersihan dijadikan sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi karena menentukan keabsahannya, yaitu bersih dari hadats besar, hadats kecil, dan bersih dari najis baik pada badan, pakaian yang dikenakan, maupun tempat yang digunakan untuk ibadah. Hal itu sesuai dengan dengan sabda Rasulullah SAW yang artinya; “Allah tidak menerima shalat orang yang berhadats hingga ia berwudlu” (HR. Bukhori). Allah SWT juga berfirman dalam Alqur’an yang artinya; Dan terhadap pakaianmu bersihkanlah” (Al-Mudatssir: 4).

Diluar ibadah, anjuran untuk menjaga kebersihan tetap berlaku. Rasulullah SAW bersabda yang artinya; Kebersihanadalah sebagian dari iman” (HR. Muslim). Hadits ini secara jelas menunjukkan bahwa kebersihan amat penting dan bahkan terkait langsung dengan keimanan. Oleh karena itu banyak hal-hal yang kemudian disunnahkan dalam rangka menjaga kebersihan, seperti memotong kuku, mandi supaya badan bersih dan tidak bau, siwak (menggosok gigi) dan lain sebagainya.

Khusus bagi siwak (menggosok gigi), Rasulullah SAW sangat menganjurkannya sehingga beliau sampai menyatakan jika saja beliau tidak khawatir memberatkan umat maka beliau akan mewajibkan mereka bersiwak setiap kali hendak shalat. Para sahabat juga selalu menyaksikan beliau bersiwak, seperti yang diriwayatkan oleh Abu Burdah bahwa beliau pernah menemui Rasulullah SAW dalam keadaan bersiwak. Oleh karena itu para ulama kemudian menyimpulkan bahwa siwak hukumnya sunnah. Dan kesunnahan ini menjadi sangat ditekankan (muakkad) ketika bau mulut berubah tidak sedap karena tidak makan dan minum dalam waktu lama maupun karena makan sesuatu yang memiliki bau menyengat seperti bawang putih, ketika bangun tidur, ketika akan menunaikan ibadah shalat, ketika akan membaca Alqur’an, dan sebagainya (Al Bajuri, 1: 64-65).

Disamping disunnatkan  terdapat beberapa manfaat bersiwak, antara lain; memperoleh ridla Allah, melipatgandakan pahala, menjadikan gigi lebih putih dan bersih, menghilangkan bau mulut yang tidak sedap, memperkuat gusi, memperlambat tumbuhnya uban di kepala, punggung tetap tegak, menambah kecerdasan, mencegah penurunan daya ingat, dan sebagainya (al fiqh al islami, 1:305).

Bersiwak pada dasarnya tidak harus menggunakan sikat dan pasta gigi, karena segala benda yang permukaannya kasar dan dapat menghilangkan kotor yang menempel pada gigi bisa digunakan untuk bersiwak, seperti kayu ‘arak (yang biasa digunakan untuk bersiwak) dan kain. Namun karena kemajuan teknologi dan inovasi terus menerus yang dilakukan oleh manusia maka kemudian muncul sikat gigi, pasta, dan lain sebagainya untuk menjaga kebersihan serta menjaga aroma mulut supaya tidak berbau. Namun produk cair pencuci mulut yang belakangan muncul tidak dapat menggantikan fungsi bersiwak karena tidak memenuhi unsur benda kasar yang dapat menghilangkan kotoran pada gigi.

Tapi apakah sikat gigi tetap dianjurkan saat berpuasa, sebab disebutkan dalam hadits bahwa di hadapan Allah SWT bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi daripada minyak kasturi? Para ulama sepakat bahwa siwak hukumnya sunnah kapan dan dimana saja, sehingga ketika sedang berpuasapun tetap disunnahkan untuk bersiwak. Akan tetapi menurut ulama Syafi’iyah kesunnahan siwak bagi orang yang berpuasa hanya berlaku sampai waktu matahari tepat berada di atas kepala (istiwa’). Sedangkan ketika matahari mulai condong sedikit ke arah barat (zawal) atau seiring masuknya waktu shalat Dhuhur, maka hukum siwak menjadi makruh (Al Bajuri, 1: 62-63). Hal itu disebabkan karena perubahan bau mulut sebelum Dhuhur umumnya disebabkan makanan saat sahur, sedangkan setelah Duhur diakibatkan oleh ibadah puasa itu sendiri (al fiqh al islami, 2:639).

Akan halnya penggunaan pasta gigi saat berpuasa hukumnya adalah makruh dan tidak membatalkan puasa asalkan rasa tersebut tidak sampai tertelan.  Jika tertelan, maka  puasa menjadi batal. Hal itu sama seperti mencicipi masakan (al fiqh al islami, 2:636-639). Apabila melihat rasa yang ada dalam pasta gigi yang tidak mudah hilang sebaiknya penggunaan pasta gigi saat berpuasa dihindarkan. Atau penggunaannya disiasati sebelum waktu imsak tiba.–

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here