Qadla dan Menggantikan Ibadah Orang Lain

67

Pertanyaan :

Mohon diperbolehkan bertanya; apa ada cara menebus shalat lima waktu yang sengaja ditinggalkan?

  –Anto jepara

Apakah ibadah individual seperti shalat dan puasa itu bisa digantikan oleh orang lain. Misalnya orang tua sakit kemudian shalat atau puasanya diqadla’ oleh anak. Apakah itu bisa?

— Hadi Bangsri Jepara

Jawaban :

Ketika tiba waktu shalat, seorang muslim mukallaf wajib memilih 1 dari 2 hal, yaitu melaksanakan shalat seketika, atau bertekad (‘Azam) melaksanakannya di dalam waktu. Apabila salah satunya tidak dilakukan maka dia berdosa karena itu artinya dia terindikasi meninggalkan shalat. Seandainya setelah bertekad melaksanakan kemudian dia meninggal dunia sebelum sempat melaksanakan dan waktu yang tersedia masih mencukupi untuk melaksanakan shalat maka dia tidak berdosa (Al Bajuri; 1/121).

Apabila sampai waktunya habis dia masih belum melaksanakan berarti dia benar-benar meninggalkan shalat. Meninggalkan shalat atau puasa fardlu memiliki 2 kemungkinan :

Pertama, mengingkari status wajibnya. Jika alasan meninggalkan adalah karena mengingkari status wajibnya shalat atau puasa maka dia menjadi kafir.

Kedua, meyakini status wajibnya namun malas melaksanakannya. Jika alasannya demikian maka hukumnya berdosa.

Baik karena alasan yang pertama maupun alasan yang kedua kewajiban shalat (kecuali bagi wanita haidl) dan puasa masih tidak gugur atasnya, dan oleh karena itu dia masih berkewajiban meng-qadla’nya. Qadla’ juga merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya bertaubat atas dosa meninggalkan ibadah fardlu (I’anatut Thalibin; 4/494).

Waktu meng-qadla tergantung; apakah saat meninggalkannya disertai udzur ataukah tidak. Jika disertai udzur, misalnya ketiduran, gila, lupa dan sejenisnya sepanjang waktu shalat, atau karena haidl, bepergian atau sakit dan sejenisnya di bulan Ramadlan, maka dia tidak berkewajiban (dan hukumnya sunnat) meng-qadla’ seketika. Dia hanya dituntut telah melaksanakan qadla’ sebelum ajal tiba. Sedangkan jika meninggalkannya shalat atau puasa tidak karena udzur maka qadla harus dilaksanakan seketika, yaitu dia harus mencurahkan segenap waktu untuk melaksanakan qadla dan terlarang melakukan hal-hal lain yang tidak mendesak (Al Majmu’; 3/69).

Terkait mana yang bisa digantikan orang lain dan mana yang tidak, para ulama membagi ibadah dalam 3 jenis (Al Fiqh al Islamiy; 4/425) :

Pertama, ibadah yang bersifat harta murni (ibadah maliyah mahdlh), misalnya zakat, kafarat dan membagikan kurban. Jenis ibadah ini disepakati ulama boleh digantikan orang lain (niyabah), baik dalam keadaan darurat maupun normal, sebab yang menjadi maksud tujuan ibadah jenis ini adalah bahwa orang-orang yang berhak dapat menerima dan mendapatkan manfaatnnya. Dan hal itu dapat teraelisir dilakukan oleh siapa saja, baik oleh pelaku asli (Ashil) maupun orang yang menggantikan (Naib).

Kedua, ibadah yang bersifat badan murni (ibadah badaniyah mahdlah), misalnya shalat dan puasa. Jenis ini tidak boleh digantikan oleh orang lain, karena yang menjadi maksud tujuannya adalah memberi beban ibadah pada hamba. Dan hal itu tidak terwujud jika pelaksanaannya diwakili orang lain.

Ketiga, ibadah yang merupakan gabungan dari yang bersifat badan dan harta sekaligus (ibadah badaniyah maliyah), misalnya haji. Menurut mayoritas ulama (selain madzhab Maliki) –ketika terdapat ketidak mampuan atau dalam kondisi darurat– jenis ini boleh digantikan oleh orang lain, karena rasa berat yang dibebankan kepada hamba dapat terwujud bila dilakukannya sendiri dan dapat terwujud pula karena dilaksanakan orang lain dengan menggunakan harta orang yang digantikan.

Berdasarkan ketentuan di atas, orang yang meninggal dunia dengan meninggalkan kewajiban shalat  maka  qadla’ shalatnya tidak dapat dilakukan orang lain dan juga tidak dapat ditebus dengan fidyah. Namun sekelompok ulama –diantaranya sebagian ulama madzhab Syafi’i– berpendapat bahwa qadla’ shalat tersebut dapat digantikan. Bahkan sebagian mereka mewajibkannya jika yang meninggal dunia meninggalkan harta, sebagaimana puasa. Dan sebagaimana halnya puasa juga, qadla’ shalat tersebut dapat digantikan dengan fidyah berupa 1 mud (7 ons) makanan pokok untuk setiap 1 kali shalat. Hal ini berangkat dari faham ahli sunnah wal jama’ah yang menyebutkan bahwa pahala segala ibadah –baik wajib maupun sunnat– dapat dikirimkan kepada orang lain dan memang bisa sampai kepadanya  (I’anatut Thalibin; 1/24).–

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here