Talak dalam Amarah, atas Paksaan Istri dan Melalui Sms

328

Pertanyaan :

Karena dibakar cemburu dan merasa tidak diacuhkan, saya memaksa suami mentalak saya meskipun hanya melaui sms. Suami menjawab, “Ya.” Saya paksa dia menyatakan lebih jelas lagi agar –menurut saya– talaknya sah. Dia menulis lagi, “Urusi dirimu sendiri.” Saat itu kami benar-benar dalam kemarahan hebat. Pertanyaan saya: Sahkah talak dalam amarah, pemaksaan dan melalui sms seperti itu?

                                                                        Dari Siti di  Kudus

Jawaban :

Talak –biasa diartikan dengan cerai—adalah memutuskan ikatan pernikahan antara suami dengan istri. Hak talak hanya dimiliki oleh suami. Talak pada masa jahiliyah jumlahnya tidak terbatas dan karenanya sering digunakan secara sewenang-wenang untuk merugikan istri. Sedangkan dalam Islam talak dibatasi maksimal 3 kali.

Hukum menjatuhkan talak berbeda-beda, tergantung latar belakang yang menyertainya. Ada yang wajib, misalnya talak yang harus dilakukan suami yang bersumpah Ila’. Ada yang sunnat, misalnya karena suami tidak mampu memenuhi hak-hak istri atau istri memiliki perangai buruk yang membuat suami tidak mampu bersabar. Ada yang mubah, misalnya suami tidak memiliki syahwat kepada istri sedangkan istri tidak suka menerima nafkah jika tidak digauli. Ada yang haram, misalnya mentalak saat istri sedang dalam masa haidl (atau dalam masa suci yang sudah digauli) atau talak dijatuhkan oleh suami yang sedang sakit dengan maksud untuk menghalangi istri menjadi ahli waris.

Di luar semua latar belakang tersebut di atas talak hukumnya makruh. Rasulullah SAW bersabda, “Perkara halal yang paling dimurkai Allah SWT adalah talak.”

Rukun talak ada 5, yaitu suami, shighat, niat, tempat dan kewenangan.

Talak hukumnya sah jika dijatuhkan oleh suami yang baligh, berakal dan atas kehendak sendiri. Talak yang dijatuhkan karena pemaksaan disertai ancaman — fisik maupun psikis– hukumnya tidak sah.

Talak yang dilakukan oleh suami yang bersenda gurau hukumnya sah. Dalam hadits shahih disebutkan bahwa ada 3 hal yang jika dilakukan dengan serius maupun bercanda menjadi serius, yaitu talak, nikah dan ruju’.

Ulama sepakat bahwa talak yang dijatuhkan orang yang sedang marah adalah sah, meskipun dia mengaku hilang kendali  ketika sedang marah saat itu.

Shighat (redaksi) talak ada 2 bentuk.

Pertama, sharih (tegas), yaitu menggunakan kata-kata yang tidak mengandung makna lain kecuali talak, misalnya talak, cerai, dan pegat (dalam bahasa Jawa). Talak dalam bentuk sharih hukumnya sah meskipun tidak disertai niat menjatuhkan talak. Talak juga sah jika suami sekedar menjawab “Ya”, saat istri memintanya mentalak.

Kedua, kinayah (tidak tegas/kiasan), yaitu menggunakan kata-kata yang mengandung makna talak dan makna lain, misalnya, “Engkau haram bagiku” dan “Urus dirimu sendiri.” Talak menggunakan redaksi kinayah hanya sah jika disertai dengan niat menjatuhkan talak seiring dengan saat kata-kata itu diucapkan.

Semua ketentuan mengenai redaksi  kata-kata dalam talak di atas adalah jika kata-kata tersebut diucapkan secara lesan.

Sedangkan jika suami menulis kata-kata talak –baik sharih maupun kinayah— tanpa disertai niat menjatuhkan talak, maka tulisan tersebut percuma jika saat menulis atau sesudahnya suami tidak mengucapkan secara lesan apa yang ditulisnya itu. Hal ini menegaskan bahwa tulisan adalah suatu bentuk kinayah, baik yang menulis adalah orang yang bisa bicara maupun orang bisu. Jika disertai dengan niat maka talak baru bisa terjadi. Tentu saja, suamilah yang bisa menjelaskan apakah pada waktu menulis saat itu menyertakan niat menjatuhkan talak atau mengucapkannya secara lesan, ataukah tidak. (Disarikan dari Ianatut Thalibin; 4/1-16) —

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here