I’tikaf Sembari Makan Minum

56
Pertanyaan :
Semula yang saya dengar adalah orang yang ber’itikaf itu harus duduk menghadap kiblat dengan membaca Al Qur’an, berdzikir atau sejenisnya. Namun belakangan saya mendengar penjelasan bahwa i’tikaf bisa dilakukan sembari makan, minum, mengobrol dan lain sebagainya. Bagaimanakah yang sebenarnya?
                        Bayu AR, MA Madarijul Huda Kembang Pati
Jawaban :
I’tikaf menurut pengertian syari’at adalah berdiam di dalam masjid disertai niat dan dengan syarat tertentu. Sedangkan menurut arti bahasa i’tikaf artinya berdiam diri. Dalam pengertian bahasa, i’tikaf pernah disyari’atkan kepada umat terdahulu, misalnya kepada Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS (QS 2; 125), namun dalam pengertian syari’at i’tikaf merupakan kekhususan bagi umat Muhammad SAW.Dalam hadits disebutkan bahwa barang siapa melakukan i’tikaf sesebentar waktu antara 2 perahan unta maka seakan-akan dia telah memerdekakan seorang budak.
I’tikaf sunat dilakukan kapan saja; malam maupun siang hari, pada bulan Ramadlan maupun di luar Ramadalan, bahkan jika dilakukan secara sengaja di waktu-waktu terlarang untuk shalat sekalipun. Dalam hadits Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah SAW melakukan i’tikaf 10 hari pertengahan Ramadlan, kemudian 10 hari terakhir dan melanggengkan hal itu hingga beliau wafat. Disebutkan juga bahwa beliau melakukan i’tikaf pada 10 hari pertama Ramadlan dan 10 hari pertama bulan Syawal, dimana yang terakhir ini –karena di dalamnya terdapat Hari Raya Idul Fitri yang diharamkan berpuasa– menunjukkan bahwa i’tikaf tidak harus disertai puasa.
Hukum asal melakukan i’tikaf adalah sunnat, dan dapat menjadi wajib karena di-nadzar-kan, menjadi haram karena dilakukan oleh perempuan tanpa seijin suami, menjadi makruh karena dilakukan perempuan yang masih menarik perhatian atas seijin suami. I’tikaf tidak ada yang berstatus mubah karena Kaidah Fiqh menyatakan bahwa segala sesuatu yang hukum asalnya adalah sunnat, tidak dapat berubah menjadi mubah.
Rukun i’tikaf ada 4 yaitu, niat, Mu’takif (orang yang beri’tikaf), masjid dan berdiam diri.
Niat i’tikaf sebaiknya dilakukan semenjak masuk masjid, sebab jika telah beberapa saat di dalam masjid baru kemudian menjatuhkan niat, maka i’tikaf dihitung sejak adanya niat tersebut. Dalam i’tikaf yang dinadzarkan harus disertakan juga status wajibnya i’tikaf.
Orang yang beri’tikaf disyaratkan beragama Islam, berakal sehat, tamyiz dan suci dari hadats besar (haidl, nifas dan janabah). I’tikaf tidak mensyaratkan baligh dan suci dari hadats kecil.
I’tikaf hanya sah dilakukan di dalam masjid yang murni kemasjidannya, meskipun bukan masjid yang digunakan shalat Jum’at . Karena itu i’tikaf tidak sah jika dilakukan di mushalla, madrasah, pesantren dan masjid perluasan. Termasuk status dalam masjid adalah angkasa yang searah dengan masjid.
I’tikaf dilakukan dengan berdiam diri setidaknya melebihi waktu seukuran thuma’ninah shalat, yaitu seukuran membaca subhanallah dan tidak sah kurang dari itu. Yang dimaksud dengan berdiam diri adalah mencakup berdiam diri secara hakiki, yaitu tidak bergerak dari satu titik ke titik lainnya di dalam masjid, dan berdiam diri secara hukmiy (relatif), yaitu berada di dalam masjid meskipun bergerak ke sana ke mari. Tidak cukup i’tikaf dengan sekedar lewat di dalam masjid, yaitu masuk dari satu pintu lalu keluar melalui pintu lainnya.
I’tikaf –baik yang berstatus wajib maupun sunnat– menjadi batal karena Mu’takif melakukan persetubuhan, baik di dalam maupun di luar masjid. Bahkan jika hal itu dilakukan dalam keadaan bukan dipaksa, sadar sedang beri’tikaf dan mengetahui keharamannya maka berakibat dosa. Sedangkan persentuhan fisik yang membatalkan i’tikaf adalah sama persis dengan ketentuan persentuhan yang membatalkan puasa (lihat Junub Saat Berpuasa di rubrik ini).
Dalam beri’tikaf seseorang boleh menggunakan minyak wangi, berhias diri dengan mandi, mencukur kumis, mengenakan pakaian bagus dan lain sebagainya. Mu’takif juga boleh makan, minum, mencuci tangan dan sejenisnya di dalam masjid, namun lebih utama semua itu dilakukan di dalam wadah. Meskipun dilakukan di dalam wadah, kencing hukumnya haram dan bekam hukumnya makruh.
Di dalam masjid Mu’takif boleh melaksanakan pernikahan, menikahkan dan tidak makruh melakukan pekerjaan bidang ketrampilan/kerajinan, misalnya merajut pakaian, tulis-menulis dan sejenisnya asalkan tidak mencolok, karena jika mencolok hal-hal tersebut dapat menodai kehormatan masjid. Namun tulis-menulis bidang ilmu –sebagaimana mengajarkannya dan sebagaimana membaca Al Qur’an—hukumnya tidak makruh, bahkan hal itu merupakan sebagai ibadah di dalam ibadah. (Disarikan dari Al Bajuri; 302-308)–

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here