Adab-adab Membaca Al Qur’an

88

(Bagian 2/2)

Sedangkan adab-adab saat tengah membaca Al Qur’an diantaranya adalah sebagai berikut :

Pertama, menghayati ayat-ayat yang dibaca, karena penghayatan inilah tujuan utama membaca Al Qur’an dan yang dapat memberi manfaat nyata. Dalam mempraktekkan membaca disertai penghayatan ini banyak diantara ulama salaf yang dalam waktu semalam suntuk hanya membaca satu-dua ayat saja. Ada yang penghayatannya sangat kuat hingga mengakibatkannya pingsan, bahkan sampai ada yang meninggal.

Membaca Al Qur’an disertai penghayatan dapat menjadi obat penawar hati, disamping perut selalu lapar, shalat malam, khusyu’ berdoa di waktu sahur dan berteman dengan orang-orang shalih, sebagaimana hal itu dahulu dirumuskan oleh Imam Ibrahim Al Khawwash dan sekarang populer disyaiirkan dalam tembang berbahasa Jawa berjudul Tombo Ati.

Kedua, menangis saat membaca –juga saat mendengar bacaan– Al Qur’an. Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah Al Qur’an dan menangislah. Jika kalian tidak bisa, maka paksakanlah diri untuk menangis.”

Terkait hal ini Imam Al Ghazali dalam Ihya’ menganjurkan tips, yaitu dengan cara menghadirkan kecemasan dalam hati akan ancaman siksa dan janji-jani Allah SWT. Jika hal tersebut belum mampu membuat menangis, maka menangislah karena tidak berhasil menangis, karena ini jauh lebih mencemaskan.

Ketiga, membaca dengan Tartil. Diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Ummi Salamah bahwa bacaan Rasulullah bisa didengar huruf demi huruf (karena tartil). Tartil disunnahkan bagi orang yang membaca disertai penghayatan maupun tidak. Bagi orang yang tidak dapat memahami, tartil menunjukkan sikap penghormatan dan menimbulkan pengaruh dalam hati. Tidak dianjurkan membaca Al Qur’an terlalu cepat atau yang disebut dengan Hadz. Sedangkan bacaan terlalu cepat yang berakibat huruf-huruf yang dibaca hilang dan panjang pendeknya tidak selaras maka tidak boleh.

Keempat, ketika membaca ayat yang menerangkan masalah rahmat disunahkan berdoa mohon mendapatkannya, ketika membaca ayat menerangkan siksa disunnahkan mohon perlindungan, ketika membaca ayat yang menerangkan kesucian Allah disunnahkan membaca Tasbih. Hal ini berlaku saat di luar maupun di dalam shalat, baik bagi imam, makmum maupun shalat sendiri, karena semua itu adalah doa, sebagaimana bacaan Amin.

Kelima, menghindarkan bercanda, bersenda gurau dan berbicara di tengah-tengah membaca Al Qur’an, kecuali sangat terpakasa. Tidak iseng-iseng mempermainkan tangan atau memandang hal-hal yang dapat mengganggu konsentrasi.

Keenam, haram hukumnya membaca Al Qur’an dengan bahasa selain Arab, baik bagi yang mampu membaca tulisan Arab maupun yang tidak mampu, demikian menurut mayoritas ulama.

Ketujuh, boleh hukumnya membaca Al Qur’an dengan menggunakan Qira’ah Sab’ah dan tidak boleh menggunakan selain itu, yang disebut dengan Qira’ah Syadzah.

Kedelapan, disunnahkan membaca Al Qur’an secara Tartib yaitu  dari depan ke belakang sesuai urutan dalam mushaf, baik di dalam maupun di luar shalat.

Kesembilan, disamping membaca dari depan ke belakang, disunnahkan pula membaca Al Qur’an secara berurutan, yaitu selesai membaca satu surat dilanjutkan dengan surat urutan berikutnya. Tartib dan berurutan disunnahkan karena Al Qur’an disusun sedemikian rupa berdasarkan hikmah. Namun ketentuan ini tidak berlaku apabila Rasulullah SAW telah memberi contoh lain. Demikian juga untuk kepentingan mengajar anak-anak.

Sedangkan membaca secara terbalik yaitu dimulai dari akhir surat menuju ke awal surat hukumnya sangat dilarang, karena menghilangkan kemukjizatan dan hikmah susunan Al Qur’an.

Adapun adab-adab saat mengakhiri atau mengkhatamkan bacaan Al Qur’an diantarnya adalah sebagai berikut :

Pertama terkait waktu khataman, disunnahkan bagi yang sendirian untuk mengkhatamkannya di dalam shalat, shalat Shubuh atau Ba’diyah Maghrib. Atau jika di luar shalat, maka satu khataman dilaksanakan pagi hari, khataman berikutnya di sore hari.

Kedua, di luar bulan Ramadlan, disunnahkan berpuasa pada hari khataman, sebagaimana dilakukan para Tabi’in dari Kufah.

Ketiga, sangat disunnahkan menghadiri majlis khataman Al Qur’an.

Keempat, disunnahkan membaca Takbir di sela-sela antara dua surat, sejak  surat Adl Dluha sampai An Nas.

Kelima, ketika sampai pada surat Al Ikhlash disunnahkan membacanya berulang, setidaknya tiga kali.

Keenam, ketika selesai mengkhatamkan satu putaran disunnahkan langsung menyambungnya dengan putaran khataman berikutnya.

Ketujuh, sangat disunnahkan berdoa ketika mengkhatamkan bacaan Al Qur’an.

Kedelapan, menyelenggarakan walimah (jamuan makan) khataman Al Qur’an.–

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here