Puasa dan Shalat Jum’at Orang Sakit

34

Pertanyaan :

Orang tua saya (70) harus menjalani cuci darah seminggu dua kali, tiap Selasa dan Jum’at. Bagaimana hukum puasa dan shalat Jum’atnya? Sementara selain darahnya harus dikeluar-masukkan, pasien cuci darah sangat butuh energi dari makanan, berikut lamanya proses cuci darah yang tidak bisa diubah jadwalnya (4 jam), sehingga tidak bisa menjalankan shalat Jum’at. (Nashrul Haqqi, Bantrung-Batealit- Jepara)

Jawaban :

Setiap orang islam baik laki-laki maupun perempuan yang telah dewasa (baligh), berakal sehat (‘aqil), serta mampu melaksanakan ibadah puasa (ithaqah), maka ia wajib berpuasa. Ketentuan-ketentuan ini dalam fiqih disebut dengan syarat wajib puasa (Fathu al Qarib: 25). Apabila  salah satu dari ketentuan ini ada yang tidak terpenuhi, maka kewajiban berpuasa menjadi gugur atas seseorang.

Dalam kitab Al fiqh al Islami dijelaskan ada beberapa hal yang memperbolehkan seseorang untuk tidak berpuasa, diantaranya adalah sakit (maradl). Orang sakit termasuk salah satu orang yang mendapatkan keringanan (rukhsah) dari Allah SWT untuk tidak berpuasa, namun ia harus mengganti (qadla’) puasanya pada kesempatan yang lain. Hal itu berdasarkan firman Allah SWT yang artinya; Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia tidak berpuasa), maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan, pada hari yang lain”. (QS. 1: 184).

Apakah semua jenis sakit dapat mendatangkan keringan untuk tidak berpuasa?  Pertanyaan ini mengemuka karena tidak semua jenis sakit bisa menyebabkan seseorang mendapatkan keringanan untuk tidak berpuasa. Dalam kitab-kitab fiqh para ulama memberikan penjelasan tentang batasan-batasan sakit yang membolehkan seseorang untuk tidak berpuasa. Batasan-batasan itu antara lain; sakit yang mengakibatkan seseorang tidak mampu secara fisik untuk melakukan puasa atau merasa sangat kepayahan jika berpuasa. Kemudian sakit yang dikhawatirkan bisa bertambah parah ketika penderitanya berpuasa atau menyebabkan lambatnya proses penyembuhan. Atau puasa yang bisa mengakibatkan al halak (kerusakan fungsi organ tubuh atau meninggal dunia) pada penderitanya. Bahkan jika kekhawatiran pada yang terakhir ini cukup besar, justru penderita diwajibkan untuk tidak berpuasa (Al Fiqh al Islami, 2:645). Hal ini sesuai dengan kaidah fiqih “al Dlarurah Tubihu al Mahdlurah” (keadaan darurat bisa memperbolehkan sesuatu yang dilarang). Tentu saja untuk mengetahui apakah puasa orang yang sakit bisa berdampak buruk dan berbahaya bagi kesehatannya atau tidak, diperlukan saran dokter atau ahli kesehatan.

Selain itu juga diterangkan apabila ada seseorang yang kondisi fisiknya sudah tidak memungkinkan lagi untuk melakukan puasa seperti orang yang sudah sangat tua renta, atau orang sakit yang sudah tidak bisa diharapkan kesembuhannya, maka orang tersebut boleh tidak berpuasa dan mengganti puasanya dengan membayar  fidyah untuk fakir miskin berupa satu mud (7 ons) makanan pokok setiap harinya, tanpa ia diharuskan untuk mengqadla’ puasanya pada kesempatan lain, karena hal itu memang sudah tidak mungkin baginya.

Adapun terkait dengan shalat Jum’at. Orang yang sakit boleh tidak melakukan shalat Jum’at, namun ia  tetap harus melaksanakan shalat Dhuhur. Karena –tidak sebagaimana puasa– kewajiban shalat tidak gugur karena sakit. Apabila sakit yang dideritanya tidak memungkinkan dia melakukan shalat dengan berdiri, maka ia boleh melaksanakannya dengan duduk, jika tidak mampu duduk ia boleh tidur miring, jika tidak mampu tidur miring ia boleh tidur terlentang, dan jika masih tidak mampu ia boleh shalat dengan isyarat. Hal itu sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang artinya; Shalatlah dengan berdiri, jika tidak mampu, maka dengan duduk. Jika tidak mampu maka di atas lambung (miring). Jika tidak mampu maka dengan isyarat (HR. Al Bukhari).

KH. Umar Farouq

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here