Shalat Witir Ganda

38

Pertanyaan :  

Shalat Witir itu jumlah rakaatnya ganjil dan disunnahkan di bulan Ramadan maupun bulan-bulan lainnya. Yang ingin kami tanyakan adalah bagaimana hukumnya jika seseorang melaksanakan shalat witir dua kali dalam 1 malam, yaitu setelah shalat Tarawih dan setelah shalat Tahajud. Bukankah jumlah rakaatnya berubah menjadi genap.

Siti Nur Fitriah,  Purworejo- Margoyoso – Pati

 

Jawaban :

Demi menyempurnakan kekurangan ibadah-ibadah fardlu yang dilakukan oleh umat Islam, Allah SWT mensyariatkan ibadah-ibadah sunah. Dalam hadits Rasulullah SAW bersabda, “Shalat fardlu, zakat wajib dan lainnya apabila tidak sempurna dilaksanakan maka akan disempurnakan dengan yang sunah.” Misalnya shalat belum khusyu’ atau tanpa menghayati bacaan-bacaan shalat. Para ulama menambahkan bahwa penyempurnaan tersebut dapat terjadi meskipun yang fardlu dan yang sunnah tidak sejenis. Bahkan kelak di akhirat ibadah sunnah dapat menggantikan kedudukan ibadah fardlu yang ditinggalkan karena udzur, misalnya karena lupa. Sedangkan di dunia , begitu ingat telah meninggalkan fardlu maka harus segera di-qadla’.

Para ulama membagi shalat sunnat dalam 2 kelompok. Pertama, yang disunnatkan berjama’ah misalnya shalat Ied, shalat Istisqa’ dan shalat Gerhana. Kedua yang tidak disunnatkan berjamaah, misalnya shalat sunat Rawatib, shalat Dluha dan Tahiyyatul Masjid. Shalat Witir termasuk yang tidak disunnatkan berjamaah, kecuali pada bulan Ramadlan.

Shalat Witir termasuk shalat Sunnat Mu’akkad (sangat disunnatkan), bahkan wajib menurut Imam Abu Hanifah. Rasulullah SAW bersabda, “Shalat Witir adalah haq atas setiap muslim.” Disebut Witir yang artinya ganjil karena shalat ini selalu diakhiri dengan 1 rakaat, tidak sebagaimana shalat-shalat lainnya.

Jumlah rakaat shalat Witir minimal adalah 1 rakaat, namun makruh hukumnya jika melaksanakannya hanya sebatas 1 rakaat. Paling sedikitnya sempurna 3 rakaat dan paling banyaknya 11 rakaat. Sunnat dilaksanakan 2 rakaat satu kali salam dengan 1 rakaat sebagai penutup.

Waktu pelaksanaan shalat Witir adalah setelah melaksanakan shalat Isya’ hingga fajar. Dan lebih utama dilaksanakan pada akhir malam, meskipun konsekwensinya tidak dapat berjamaah. Keutamaan ini ditujukan bagi orang yang sudah terbiasa atau percaya diri dapat bangun sebelum fajar, baik terbangun sendiri maupun dibangunkan orang lain. Baginya shalat Witir juga sunnah dilaksanakan usai shalat Tahajjud, yaitu shalat sunnah sesudah tidur malam. Keutamaan mengakhirkan ini tidak menyertakan shalat Tarawih, karena shalat Tarawih lebih utama dilaksanakan pada awal waktu.

Sedangkan bagi orang yang tidak terbiasa atau tidak percaya diri dapat bangun sebelum fajar, shalat Witir lebih utama dilakukan sebelum tidur.

Terkait dengan mana yang lebih utama, sebelum ataukah sesudah tidur, sebenarnya para Sahabat Rasulullah SAW sendiri berbeda pilihan. Abu Bakar dan sekelompok Sahabat melaksanakan Witir sebelum tidur, sedangkan Umar bin Khatthab dan sekelompok Sahabat lainnya melaksanakan sesudah tidur. Kemudian kedua Sahabat senior tersebut melaporkan hal itu kepada Rasulullah SAW. Beliau membenarkan pilihan kedua-keduanya. Beliau mengatakan, “Yang ini (sambil menunjuk ke arah Abu Bakar) lebih bersikap hati-hati. Dan yang ini (sambil menunjuk kea rah Umar) memiliki kepercayaan diri kuat.” (Ianatut Thalibin ; 1/244)

Apabila shalat Witir telah dilaksanakan, misalnya telah dilaksanakan usai shalat Tarawih, maka tidak dianjurkan untuk mengulanginya, misalnya mengulanginya sesudah shalat Tahajjud. Apabila secara sengaja mengulanginya, dengan niat shalat Witir dan tahu bahwa itu tidak dianjurkan maka hukumnya haram dan Witirnya tidak sah. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW, “Tidak boleh ada2 Witir dalam 1 malam”(Bulughul Maram ; 1/141) a pI�ur�} Hdng keabsahan ibadah yang dilakukan maka ibadah tersebut tidak sah. Misalnya dia ragu apakah salah satu rukun atau syarat –dalam hal ini ragu apakah waktu shalat telah masuk ataukah belum– kemudian tetap saja dia melaksanakan shalat, maka shalatnya tidak sah. Meskipun sejatinya memang sungguh-sungguh waktu telah masuk. Kedua, hakikatnya memang ibadah telah sah. Sehingga apabila dia sangat yakin  waktu shalat telah masuk, namun hakikatnya masih belum masuk maka shalatnyapun tidak sah. Oleh karena itu shalat yang dilakukan tanpa memenuhi kedua unsur tersebut tidak sah, dan karenanya harus diulang. Dalam kasus adzan yang disampaikan dalam pertanyaan di atas kami menilai unsur yang kedua inilah tidak terpenuhi.

 

Hal ini berbeda dengan bidang mu’amalah, dimana hanya unsur kedua saja yang disyaratkan. Sehingga apabila seseorang melakukan transaksi, misalnya menjual suatu benda  yang dia sendiri ragu apakah harta tersebut benar-benar miliknya atau bukan, maka apabila kemudian terbukti benda itu miliknya maka penjualan tersebut sah. (I’anatut Thalibin 1; 115)

Disamping itu perlu diingatkan kembali bahwa terkait waktu adzan, setiap tempat yang mengumandangkan adzan memang harus mempunyai pedoman berupa jadwal waktu shalat, jam penunjuk waktu yang terkontrol dan muadzin yang teliti. Terkait hal terakhir ini kitab-kitab fiqh menjelaskan bahwa bahwa disamping dianjurkan memiliki suara nyaring, seorang muadzin juga harus memiliki sifat adil (terpercaya) diantaranya karena dia teliti terhadap tibanya waktu shalat.-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here