Ajakan Makan Saat Berpuasa

40

Pertanyaan :

Saat sedang menjalankan puasa kami kedatangan tamu dari jauh dan kamipun menyuguhkan kapadanya makanan dan minuman. Tapi si Tamu tidak mau menyantap makanan dan minuman itu jika kami tidak ikut bersama menyantapnya. Apa yang sebaiknya kami lakukan; mengaku terus terang sedang berpuasa atauakah ikut menyertainya makan begitu saja dan membatalkan puasa?

Alfian, Welahan Jepara

 

Puasa adalah suatu ibadah yang istimewa dan berpahala besar karena Allah SWT mengkhususkan ibadah tersebut bagi diri-Nya langsung. Melalui sebuah hadits  Qudsi Allah SWT berfirman, “Semua amal manusia adalah bagi dirinya sendiri, kecuali puasa. Puasa adalah bagi-Ku dan Akulah yang akan membalasnya.” Mengkhusukan puasa hanya bagi Allah padahal semua amal sebenarnya juga bagi Allah menurut Imam Al Qurthubi karena 2 hal. Pertama, karena puasa dapat mencegah hawa nafsu turut menikmati ibadah puasa, dimana hal itu tidak  dapat dilakukan oleh ibadah lainnya. Kedua, puasa bersifat rahasia antara hamba dan Tuhannya dan hanya Tuhan yang mengetahui. Sedangkan ibadah lainnya bersifat lahir dan kadang masih disusupi oleh riya’ (At Tafsir al Munir li Az Zuhaili; 1/502).

Oleh karena puasa adalah rahasia, maka seringkali orang yang berpuasa menghadapi dilema, apakah tetap menjaga kerahasiaannya dengan resiko terjadi gangguan dalam bergaul dengan sesama manusia, ataukah membuka rahasia tersebut yang resikonya bisa mengurangi keikhlasan. Dilema ini sering bahkan selalu muncul saat berurusan dengan perjamuan, yakni saat orang-orang di sekitar kita makan dan kita ditawari, diajak atau bahkan kitalah yang menyediakan jamuan tersebut.

Dalam keadaan dilematis seperti inilah ketentuan fiqh hadir memberikan panduan, yaitu (Al Bajuri; 2/126) :

Pertama,  apabila puasa yang sedang kita laksanakan adalah puasa fardlu, maka tidak boleh kita membatalkannya. Meskipun puasa fardlu tersebut adalah puasa yang kita nadzar-kan  tanpa ketentuan waktu dan karenanya waktu menunaikannya sebetulnya masih longgar.

Kedua, apabila puasa yang sedang kita laksanakan adalah puasa sunat dan tidak ada tanda-tanda kekecewaan pada diri orang yang mengajak jika kita tidak ikut makan, maka melanjutkan puasa lebih utama.

Ketiga, apabila puasa yang sedang kita laksanakan adalah puasa sunnat dan terdapat tanda-tada kekecewaan dari orang yang mengajak maka membatalkan puasa dengan ikut makan bersamanya lebih utama, demi menghindarkan kekecewaannya. Dengan niat yang benar, Allah SWT akan mengganti pahala puasa dengan pahala yang sama atau bahkan lebih besar.

Dalam hadits Muslim disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seseorang dari kalian mendapat undangan maka hendaklah dia penuhi (undangan itu). Apabila dia sedang tidak berpuasa maka hendaklah dia manyantap (makanan yang disajikan). Dan jika dia sedang berpuasa maka hendaklah dia mendoakan (keberkahan makanan yang disajikan).”

Ketentuan sebagaimana di atas dalam literatur fiqh biasanya dibahas terkait dengan undangan walimah (jamuan makan) dimana tamu yang diundang sedang berpuasa, sedangkan kasus yang ditanyakan yang sedang berpuasa adalah tuan rumah. Menurut hemat kami, keduanya tidak berbeda, karena yang menjadi alasan  bukanlah siapa yang menyediakan jamuan itu, namun kekecawaan orang yang mengajak dan status wajib atau sunatnya puasa yang dilaksanakan.–

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here