Adab-adab Membaca Al Qur’an

54

(Bagian 1/2)

Pertanyaan :

Dalam bulan Ramadlan seperti saat ini umat Islam banyak melaksanakan tadarrus (membaca dan mempelajari)  Al Qur’an. Mohon dijelaskan apa-apa yang sebaiknya dilakukan oleh orang yang melaksanakan tadarrus tersebut. Terima kasih.

Jawaban :

Bulan Ramadlan memang memiliki banyak predikat, dimana semua predikat tersebut menegaskan betapa mulianya bulan ini. Diantara predikat itu adalah bulan Ramadlan disebut sebagai  Bulan Al Qur’an. Mengapa demikian, karena dua dari tiga tahap diturunkannya Al Qur’an terjadi pada bulan Ramadlan, yaitu saat diturunkan dari Al Lauh al Mahfudz ke Langit Dunia dan saat pertama kali diturunkan dari Langit Dunia kepada Rasulullah SAW (lihat tulisan lain di rubrik ini berjudul Nuzulul Qur’an). Predikat ini juga diperkuat dengan kehadiran Jibril menemui Rasulullah SAW untuk menyimak hafalan dan bacaan beliau, di setiap bulan Ramadlan, hingga beliau wafat. Peristiwa penyimakan Jibril terhadap Rasulullah SAW inilah yang kemudian diteladani umat Islam dalam melaksanakan Tadarrus, dimana satu orang membaca, sedang yang lain menyimak serta meluruskan jika terjadi kesalahan bacaan.

Dalam Tadarrus maupun membaca Al Qur’an secara umum disunnahkan memperhatikan adab-adab (tata krama), baik sebelum, di tengah-tengah maupun saat mengakhiri membaca.

Adab-adab sebelum membaca Al Qur’an diantaranya adalah:

Pertama, membersihkan mulut dengan cara bersiwak yaitu menggosok gigi dengan menggunakan kayu (utamanya adalah kayu Arak) atau benda apa saja yang kasar dan tidak licin. Menggosok gigi dengan sikat gigi seperti saat ini sudah memenuhi kesunatan, meski tanpa disertai pasta gigi. Apabila mulut terkena najis karena berdarah atau terkena najis lainnya, makruh hukumnya membaca Al Qur’an sebelum dibersihkan terlebih dahulu.

Kedua, bersuci dari hadats kecil dengan cara berwudlu, meskipun ulama sepakat bahwa  orang yang berhadats kecil boleh hukumnya membaca Al Qur’an. Apabila tidak mendapatkan air untuk berwudlu disunnahkan melakukan tayammum.

Sedangkan orang berhadats besar karena janabah atau haidl haram baginya membaca Al Qur’an, meskipun hanya satu ayat atau bahkan kurang. Mereka masih boleh melihat tulisan dalam Mushaf, membaca dalam hati tanpa atau menggearkkan bibir tanpa mengeluarkan suara bacaan Al Qur’an. Boleh pula bagi mereka membaca dzikir-dzikir baik berupa tasbih, tahlil, tahmid, takbir. Dan jika dzikir tersebut bersumber dari Al Qur’an –misalnya bacaan tarji’—boleh bagi mereka membacanya asal bukan diniatkan membaca dzikir, bukan membaca Al Qur’an.

Ketiga terkait dengan tempat, disunnahkan membaca Al Qur’an di tempat yang bersih. Oleh karena itu para ulama manilai sangat dianjurkan membaca Al Qur’an dilaksanakan di masjid, karena masjid adalah tempat yang bersih, terhormat dan sekaligus bisa melakukan i’tikaf.

Membaca Al Qur’an makruh dilakukan di tempat-tempat yang tidak layak, misalnya di dekat kamar mandi atau wc, di dalam kandang hewan dan di pabrik atau tempat publik yang sedang aktif. Sedangkan membaca di jalan dinilai oleh sebagian ulama juga makruh hukumnya.

Keempat terkait posisi pembaca, disunnahkan membaca Al Qur’an –saat di luar shalat—dengan posisi menghadap kiblat, bersikap khusyu’ dan menundukkan kepala. Sedangkan bila membaca dengan posisi tidak menghadap kiblat, berdiri atau tiduran juga masih berpahala meskipun di bawah pahala dengan posisi sempurna tersebut.

Kelima dan keenam, sesaat sebelum membaca Al Qur’an disunnahkan membaca Ta’awudz dan Basmalah, baik di dalam maupun di luar shalat. Apabila memulai bacaan dengan awal surat At Taubah hanya disunnahkan Ta’awudz saja. Haram hukumnya membaca Basmalah di awal surat tersebut, baik saat mengawali bacaan maupun saat meneruskan bacaan dari surat sebelumnya, yaitu surat Al Anfal. Hal ini karena dalam semua mushaf pada awal surat At Taubah tidak tertulis Basmalah dan semua Imam Qira’ah sepakat tidak membacanya. Diantara hikmah ketentuan ini adalah karena Basmalah yang merupakan ungkapan curahan rasa kasih sayang Allah SWT tidak sesuai dengan isi kandungan surat At Taubah berupa perintah memerangi, menangkap, mengisolir dan mengabaikan perjanjian orang-orang kafir yang telah melakukan pengkhianatan terhadp umat Islam. (bersambung)

KH. Umar Farouq

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here