KELUARGA, KUNCI PENDIDIKAN ANAK

68

Oleh : H. Abdul Ghaffar Rozin, M, Ed.

Ya Ayyuhaalladzina amanu quu anfusakum waahliikum nara. Al-ayat…

Baru beberapa hari lewat kita mendengar dan menyaksikan kehebohan atas kreatifitas beberapa remaja yang menari dan menggabungkan joget dengan bacaan dan gerakan salat di dalam kelas, yang hal itu dilakukan dengan gegap gempita tanpa menunjukkan perasaan malu. Terlebih lagi dengan tanpa rasa bersalah rekaman itu kemudian diunggah di internet dan disaksikan masyarakat di seluruh dunia.

Selain kejadian di atas tidak jarang kita menjumpai kejadian konyol dan menyedihkan yang dilakukan oleh anak-anak muda kita.

Tidak bisa dipungkiri, Indonesia saat ini menjadi salah satu kawasan ekonomi yang memiliki pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara, yang memacu munculnya para professional dan pengusaha dimana mereka dituntut untuk lebih banyak bekerja dan menghabiskan energi dan waktunya di luar rumah. Hal ini tanpa disadari membawa serta konsekwensinya. Di  satu sisi, kesibukan bekerja para orang tua tersebut memang mendorong perbaikan ekonomi keluarga dan secara lebih luas mendorong ekonomi masyarakat  yang pada akhirnya dapat memperbaiki taraf hidup keluarga masing-masing. Namun, di sisi yang lain, juga menimbulkan keluhan dari anak-anak mereka karena semakin berkurangnya waktu yang dapat diberikan bagi keluarga.

Apa yang kita amati sekarang ini ialah begitu banyak keluarga yang mengalami gangguan dalam fungsi keluarga, di mana komunikasi antara orang tua dan anak-anaknya menjadi tidak lagi akrab sehingga kerap jatuh pada situasi konflik yang amat kompleks. Anak-anak kita, kemudian  akan jauh lebih akrab dengan televisi, internet, dan media informasi lainnya yang tidak mungkin kita kontrol isinya.

Dunia anak adalah dunia yang lebih diwarnai oleh proses pencarian untuk menemukan sesuatu yang menurut mereka ideal. Dunia ideal sendiri bagi mereka adalah dunia yang ada di depan matanya, yang karenanya mereka akan mengejarnya atas kehendak pribadi. Akan tetapi, perkembangan mental psikologis yang  sedang dialaminya masih belum cukup untuk memberikan bimbingan terhadap anak-anak untuk memilih dunia idealnya secara dewasa dan bertanggung jawab. Oleh karena itu di sinilah proses bimbingan itu diperlukan, terutama untuk membimbing mereka menemukan apa yang sesungguhnya patut dan layak diidealkan.

Guru di sekolah, dan terutama orang tua di rumah seringkali menjadi sosok dominan dan menjadi pilihan utama dalam proses bimbingan terhadap anak-anak. Dalam kerangka inilah maka keluarga seharusnya berperan sebagai lembaga yang mencerahkan dan melakukan pendidikan yang sesungguhnya terhadap anak-anak, sehingga perkembangan mental, psikologis dan akhlaq anak dapat terkawal dengan baik.

Oleh karena itu, dewasa ini, di tengah-tengah lingkungan yang semakin liberal  dan bebas nilai ini, menurut hemat kami, tidak ada pihak yang paling ideal dalam membimbing akhlaq anak-anak kita selain para orang tua dan lingkungan keluarga. Oleh karena itu, marilah kita kembalikan pendidikan yang sesungguhnya, yakni pendidikan yang membentuk karakter, sehingga anak-anak berakhlak mulia dan memiliki kualitas yang lebih baik dari generasi sebelumnya.

Innama amwalukum wa auladukum fitnah, wa Allahu  ‘indahu ajrun adhim….


[1] Naskah khutbah Jum’at, 26 April 2013, di masjid Raudlatul Muttaqin, Purworejo Margoyoso Pati

[2] Rektor Institut Pesantren Mathali’ul Falah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here