ISLAM DAN EKONOMI[1]

37
Oleh: Ah. Dimyathi, M.Ag[2]

 

 Hadirin jama’ah jum’ah yang dirahmati Allah!

Marilah kita syukuri segala nikmat yang telah Allah karuniakan, dengan menggunakan ni’mat tersebut sebagai sarana untuk menambah ketaatan kepadaNya; menjalankan semua perintah-perintahNya, serta menjauhi larangan-laranganNya. Sebab, hakikat ni’mat adalah :

(إظهار نعمة المنعم ببذلها على ما يوافق بإرادة المنعم)

 

Menampakkan ni’mat yang telah diberikan Sang Pemberi Ni’mat (Allah) dengan menggunakannya sesuai yang dikehendaki Sang Pemberi Ni’mat.”

 

Di antara ni’mat  Allah yang paling mudah untuk kita ketahui dan rasakan adalah kecukupan materi atau rizqi. Bahkan, dalam pemahaman yang sederhana seringkali kita mengkonotasikan ni’mat itu dengan melimpahnya materi yang bersifat duniawi. Pemahaman yang demikian sepenuhnya dapat dimengerti, mengingat manusia merupakan mahluk ekonomi (homo ecomonicus).

Imam al-Ghazali menjelaskan hal ini dalam kitab Ihya ‘ulumiddin (III:220), beliau menyatakan bahwa:

 

Manusia dilahirkan dengan membawa naluri untuk melakukan kegiatan ekonomi (al-isytighal ad-dunyawiyah). Hal ini didorong akan upaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, yaitu kebutuhan akan makan, tempat tinggal dan pakaian.

 

Watak dasar manusia sebagai makhluk ekonomi inilah yang mendorong manusia untuk selalu meningkatkan produktivitasnya, dengan sebuah asumsi bahwa hanya dengan berperilaku produktif sajalah manusia dapat bertahan hidup dan melangsungkan keturunan. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kita saksikan, sebagian besar dari waktu yang dimiliki manusia dialokasikan untuk bekerja, mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya, bahkan tidak jarang melanggar etika, budaya dan tatanan agama. Maraknya korupsi, pungutan liar, pencurian, perampokan dan semua jenis tindakan kejahatan ekonomi, menjadi bukti sahih dari watak dasar sebagai makhluk ekonomi.

****

Hadirin yang dirahmati Allah SWT….

Alangkah buruknya dampak negatif dari sifat keduniaan maunusia. Manakala manusia menuruti nafsu duniawinya semata, tidak ada lagi rasa empati kepada yang lemah. Tidak ada lagi kepedulian untuk mempertimbangkan apa yang akan terjadi terhadap orang lain.  Oleh karena itu, sahabat Ali dalam sebuah khutbahnya memberikan nasihat:

 

إعلموا إنكم ميتون ومبعوثون من بعدالموت وموقوفون على أعمالمكم ومجزون بها. فلا تغرنكم الحيوة الدنيا. فإنها بالبلاء مخوفة وبالفناء معروفة وبالغدر موصوفة وكل ما فيها الى زوال. وهي بين أهلها دول وسجال. لا تدوم احوالها ولا يسلم من شرها نزالها…..

 

“Ketahuilah, bahwa kalian semua akan mati dan akan dibangkitkan lagi setelah mati untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kalian dan menerima balasannya. Maka janganlah kalian terbujuk oleh kehidupan dunia. Karena dunia adalah cobaan yang mengkhawatirkan, kerusakan yang nyata dan bersifat pengkhianatan. Semua yang ada di dalamnya menuju kebinasaan. Dunia menjadi rantai bagi pemiliknya. Ia tidak akan kekal dan orang yang menuju kepadanya tidak akan selamat dari keburukannya”

****

Hadirin yang dirahmati Allah!

Penting bagi kita -sebagai umat Islam-  untuk selalu kembali kepada ajaran Allah SWT dan Rasulullah SWT.  Islam telah memberikan tuntunan yang jelas tentang tata cara bermu’amalah, dengan memberikan batasan-batasan yang jelas pula, mana yang halal dan mana yang haram.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang ririwayatkan oleh Abu Hurairah :

 

من طلب الدنيا حلالامكاثرا مفاخرا, لقي الله وهو عليه غضبان. ومن طلبها إستعفافا عن المسئالة وصيانة لنفسه, جاء يوم القيامة ووجهه كالقمر ليلة البدر.

 

“Orang yang  mencari dunia dengan cara halal, tetapi berlebih-lebihan dan untuk kebanggaan diri, kelak akan menghadap Allah dalam kondisi dimurkai. Sedangkan orang yang mencari dunia dengan menjaga diri dari meminta-minta serta menjaga dirinya (dari cara yang kotor), pada hari kiamat akan datang dengan wajah yang bersinar, laksana bulan di malam purnama”

 

Semoga Allah SWT selalu memberikan kekuatan dan petunjuk kepada kita semua, agar senantiasa istiqamah dalam menjalankan syari’at Islam sebagai tuntunan dalam kehidupan. Amin ya rabbal ‘alamin.

اعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم:

“إناجعلنا ما على الأرض زينة لها لنبلوهم أيهم أحسن عملا وهو العزيز الغفور”

 


[1] Naskah Khutbah Jum’at, di Masjid Nurul Ihsan (RSI) Waturoyo Margoyoso Pati, Jum’at, 16 Maret 2012.

[2] Pembantu Ketua Bid. Akademik dan Ketua Prodi Perbankan Syari’ah STAI Mathali’ul Falah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here